Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCEINTERNATIONAL

Starbucks Lakukan PHK Besar-Besaran di AS dan Tutup Kantor Regional

×

Starbucks Lakukan PHK Besar-Besaran di AS dan Tutup Kantor Regional

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kedai kopi Starbucks (istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Starbucks, jaringan kopi internasional dikabarkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 300 karyawannya di kantor pusat di Amerika Serikat (AS).

PHK ini merupakan gelombang ketiga di bawah kepemimpinan Chief Executive Officer (CEO), Brian Niccol.

HALAL BERKAH

Jumat (15/5/2026) waktu setempat, perusahaan telah mengumumkan akan menutup beberapa kantor pendukung regional sebagai bagian dari upaya pemulihan yang sedang berlangsung.

Selain memangkas 300 pekerjaan di AS, Starbucks juga telah memulai peninjauan pada tenaga kerja korporat internasionalnya.

Untuk diketahui, pemutusan hubungan kerja ini tidak memengaruhi karyawan kedai kopi mereka. Penggabungan biaya pesangon dan penilaian ulang ruang kantor akan menghasilkan biaya restrukturisasi sebesar 400 juta dollar AS.

Baca Juga:  Menaker: THR Tak Bisa Dicicil, Wajib Dibayar Penuh

Starbucks juga memperkirakan akan mencatat biaya non-tunai sebesar 280 juta dollar AS terkait dengan penurunan nilai aset jangka panjang dan biaya tunai sebesar 120 juta dollar AS terkait dengan pemutusan hubungan kerja.

Diterangkan oleh juru bicara Starbucks, pihaknya telah mengambil tindakan lebih lanjut di bawah strategi Back to Starbucks.

Jaringan kopi internasional ini juga terus berupaya membangun momentum bisnis yang kuat dan mengembalikan perusahaan ke pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan.

“Para pemimpin telah meninjau secara saksama fungsi masing-masing untuk lebih mempertajam fokus, memprioritaskan pekerjaan, mengurangi kompleksitas, dan menurunkan biaya,” ujar dia dikutip dari CNBC.

Sejak CEO Brian Niccol mengambil alih kepemimpinan Starbucks pada Februari 2025, ia mengatakan bahwa perusahaan akan memangkas 1.100 pekerjaan dan tidak mengisi beberapa ratus posisi kosong lainnya.

Baca Juga:  Kirim 130 Negosiator, Indonesia Incar Rp 16 Triliun Dari Perdagangan Karbon

Selang tujuh bulan kemudian, perusahaan mengumumkan kembali pengurangan 900 pekerjaan untuk pekerja non-ritel sebagai bagian dari rencana restrukturisasi senilai 1 miliar dollar AS.

Berdasar pada dokumen pengajuan peraturan, per tanggal 28 September 2025, Starbucks memiliki 9.000 pekerja non-ritel di AS dan 5.000 karyawan internasional yang bekerja dalam peran operasional dukungan regional.

Niccol selama memimpin perusahaan telah memulai upaya pemulihan yang mahal dan membuahkan hasil untuk bisnisnya di AS.

Perusahaan kopi raksasa ini merosot karena meningkatnya persaingan dan konsumen yang lebih hemat menekan permintaan minuman.

Di bawah kepemimpinan Niccol, Starbucks meningkatkan operasional kafe, menambahkan menu baru yang menarik, memperkenalkan kembali tempat duduk di gerai-gerainya, dan menambah jumlah staf di kedai kopinya.

Baca Juga:  Fokus Tertibkan Pajak Barang Mewah, Bea Cukai Segel 29 Yacht Asing

Pada kuartal terakhir, perusahaan telah melaporkan penjualan di gerai yang sama di AS tumbuh 7,1 persen, didorong oleh peningkatan transaksi sebesar 4,3 persen.

Di kuartal kedua ini berturut-turut Starbucks mengalami pertumbuhan kunjungan di AS, yang menandakan, rencana kebangkitan perusahaan membuahkan hasil.

“Kuartal ini menandai tonggak sejarah bagi Starbucks dan titik balik dalam pemulihan kami,” kata Niccol. (*)

TEMANISHA.COM