Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Tiket Penerbangan Mahal Bikin Banyak Penumpang Pindah ke Moda Darat

×

Tiket Penerbangan Mahal Bikin Banyak Penumpang Pindah ke Moda Darat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi penerbangan di Bandara. (Foto: istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Sebuah kisah penumpang pesawat domestik yang dalam dua minggu terakhir, tiga dari empat tiket pesawat domestik yang dipesan sebagai perjalanan bisnis mendadak berubah pada H-1 keberangkatan.

Adalah Taufiq (30) yang mengeluhkan perubahan itu. Penerbangan yang semula menggunakan Super Air Jet dialihkan menjadi Batik Air, dua maskapai yang berada di bawah naungan Lion Air Group, dengan jadwal keberangkatan yang juga dipercepat.

HALAL BERKAH

Kemudian di kesempatan lain, Taufiq kembali menerima notifikasi perubahan jadwal dari TransNusa untuk rute Lombok–Jakarta yang telah dipesannya beberapa hari sebelumnya.

“Karena penerbangan dipercepat, jadi ada sejumlah kerjaan yang terpaksa dipercepat dan terburu-buru,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Ia pun kini dihinggapi rasa was-was setiap kali memesan tiket pesawat domestik. Bukan hanya karena takut penerbangannya dibatalkan, melainkan kekhawatiran adanya perubahan jadwal mendadak yang terlambat diketahui.

Menurut Taufiq, ia mengaku harus berkali-kali mengecek aplikasi dan surat elektronik demi memastikan tidak ada perubahan penerbangan yang terlewat.

Bagi Taufiq, keterlambatan mendapatkan informasi bisa berujung kerugian, mulai dari biaya tambahan hingga risiko tertinggal pesawat.

Tak hanya Taufiq, fenomena ini juga dirasakan Yasmin (24). Ia bersama keluarganya mulai mempertimbangkan beralih menggunakan shuttle atau bus untuk perjalanan Lampung–Jakarta.

Dengan memiliki pengalaman delay saat keberangkatan menggunakan pesawat membuat perjalanan udara tak lagi senyaman sebelumnya.

“Kalau sekarang naik pesawat rasanya jadi harus siap dengan kemungkinan delay atau perubahan jadwal,” katanya.

Padahal, harga tiket pesawat yang terus menanjak sejalan dengan kenaikan harga avtur, penumpang kini pelanggan bukan hanya dibebani ongkos mahal, tetapi juga ketidakpastian.

Baca Juga:  Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik, Thailand Gratiskan Penerbangan Domestik

Ternyata, harga mahal tidak menjamin. Kepastian kenaikan harga tiket pesawat domestik mulai terasa di sejumlah rute.

Dari hasil pantauan, tiket penerbangan Lombok (LOP)–Soekarno-Hatta (CGK) untuk keberangkatan 20 Mei 2026 dibanderol mulai Rp1,6 jutaan per penumpang.

Sementara itu, pada rute yang sama untuk keberangkatan 7 Mei 2026, harga tiket masih dijual mulai Rp1,4 juta per penumpang.

Kenaikan harga tiket itu terjadi di tengah melonjaknya biaya operasional maskapai, terutama akibat kenaikan harga avtur dan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Senafas dengan Pertamina kembali menaikkan harga bahan bakar pesawat atau avtur per 1 Mei 2026, dimana sebelumnya pada April sempat melonjak hingga 70%.

Harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta untuk periode 1—31 Mei 2026 dipatok Rp27.358 per liter, naik 16,16% dibandingkan periode 1—30 April 2026 yang sebesar Rp23.551 per liter.

Pada industri penerbangan, avtur adalah salah satu komponen biaya terbesar. Porsi bahan bakar saja bahkan menyumbang hingga sekitar 40% terhadap total biaya operasional maskapai.

Kondisi demikian tentu membuat maskapai harus mencari berbagai cara untuk menjaga keberlangsungan usaha, mulai dari penyesuaian tarif hingga konsolidasi penerbangan.

Bayu Susanto selaku Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) sekaligus Direktur Utama TransNusa mengakui bahwa pengalihan penerbangan dan penyesuaian jadwal dilakukan demi mengurangi potensi kerugian maskapai.

“Karena kurs dolar AS terhadap rupiah berubah setiap hari. Dengan penjualan H-1, pengalihan penerbangan bisa mengurangi potensi rugi,” ujarnya.

Kata Bayu, kendati pemerintah telah kembali memberlakukan fuel surcharge progresif, pengalihan penerbangan maupun perubahan jadwal masih mungkin terjadi.

Baca Juga:  Menko AHY: Tembuskan Whoosh ke Jawa Timur Tunggu Solusi Keuangan KCJB

Fuel surcharge progresif adalah biaya tambahan bahan bakar yang besarannya tidak tetap, hal tersebut dapat berubah-ubah (naik atau turun) secara bertahap mengikuti fluktuasi harga bahan bakar pesawat (avtur) di pasar dunia atau nasional.

“Kemungkinan masih bisa terjadi, tapi juga tergantung tingkat demand. Saat long weekend ini tiket rute dari Cengkareng mulai Kamis sampai Jumat penuh,” katanya.

Dengan kondisi tersebut kemudian Maskapai mengencangkan Ikat Pinggang. Pemerintah kemudian mulai memberi ruang lebih besar bagi maskapai untuk menyesuaikan tarif di tengah lonjakan biaya operasional.

Halnitu tertuang melalui Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 1041 Tahun 2026 tentang Besaran Biaya Tambahan (Surcharge) yang Disebabkan Adanya Fluktuasi Bahan Bakar (Fuel Surcharge).

Untuk tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri, pemerintah mengizinkan maskapai menerapkan fuel surcharge maksimal 50%.

Kebijakan tersebut berlaku mulai 13 Mei 2026 itu didasarkan pada rata-rata harga avtur sebesar Rp29.116 per liter.

Persentase fuel surcharge tersebut nantinya dapat berubah mengikuti pergerakan harga avtur.

Selanjutnya Lukman F. Laisa selaku Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengatakan bahwa kebijakan tersebut diambil dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kondisi keekonomian maskapai hingga daya beli masyarakat.

“Kami menjaga keberlangsungan industri penerbangan dengan tetap memperhatikan perlindungan konsumen dan keterjangkauan tarif tiket,” ujarnya.

Menurut Lukman, setiap kebijakan diarahkan guna menjaga keseimbangan antara keberlangsungan usaha maskapai dan perlindungan konsumen agar layanan angkutan udara tetap terjaga dari sisi keselamatan, keamanan, keterjangkauan, hingga konektivitas nasional.

Baca Juga:  Lagi, Izin Operasi BPR Dicabut oleh OJK

Sementara itu, maskapai menilai tantangan pada industri penerbangan masih jauh lebih kompleks dibanding sekadar kenaikan avtur.

Head of Government Relations and Communications Indonesia AirAsia Eddy Krismeidi Soemawilaga mengatakan bahwa kebijakan fuel surcharge memang cukup membantu industri dalam menghadapi kenaikan biaya operasional. Kendati demikian, tekanan biaya lainnya masih terus membayangi.

“Struktur biaya maskapai tidak hanya dipengaruhi avtur, tetapi juga pelemahan nilai tukar, biaya maintenance, leasing pesawat, serta berbagai komponen operasional lainnya yang sebagian besar masih berbasis dolar AS,” ujarnya.

MODA BARU ALTERNATIF

Saat ini penumpang mulai merambah moda lain dalam memutuskan rencana berpergian secara perlahan.

Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno memaparkan reservasi perjalanan mengalami penurunan sekitar 27%, sedangkan penjualan turun hingga 30%.

Kata Pauline, masyarakat untuk bepergian sebenarnya masih tinggi minatnya, namun keterbatasan biaya membuat konsumen mulai mengubah pola perjalanan mereka.

“Jadi balik seperti masa pandemi lalu. Karena keterbatasan biaya, orang mulai mengubah rute perjalanan,” ujarnya.

Pada perjalanan domestik, moda transportasi darat mulai menjadi alternatif yang lebih diminati, terutama pada rute-rute menengah seperti Jakarta-Semarang atau Jakarta-Yogyakarta yang kini semakin kompetitif berkat layanan kereta api.

“Kalau untuk domestik jadi lebih favourable yang pakai kereta atau mobil,” katanya. Di tengah tekanan harga tiket dan ketidakpastian jadwal penerbangan, masyarakat seperti Taufiq dan Yasmin perlahan mulai menyesuaikan ekspektasinya terhadap perjalanan udara domestik. (*)

TEMANISHA.COM