TOPMEDIA, JAKARTA – Industri penerbangan di Eropa tengah menghadapi turbulensi hebat. Lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang kian tak terkendali mulai memakan korban.
Akibat biaya operasional yang membengkak, sejumlah maskapai raksasa di Benua Biru terpaksa mengambil langkah ekstrem dengan membatalkan belasan hingga puluhan ribu jadwal penerbangan.
Langkah drastis ini diambil karena sejumlah rute, khususnya jarak pendek, dinilai sudah tidak lagi masuk akal atau tidak layak secara finansial untuk dilakukan penerbangan.
Komisioner Transportasi Eropa, Apostolos Tzitzikostas, menegaskan bahwa fenomena pembatalan massal ini murni dipicu oleh faktor ekonomi dan bukan karena kelangkaan pasokan minyak.
Uni Eropa memastikan bahwa stok avtur di kawasan mereka sejauh ini masih aman terkendali.
“Saat ini tidak ada krisis pasokan maupun indikasi kekurangan bahan bakar dalam waktu dekat di wilayah Uni Eropa,” kata Tzitzikostas dalam pernyataan resmi, kemarin (16/5/2026).
Tzitzikostas membeberkan bahwa biang kerok utama dari kekacauan ini adalah lonjakan harga yang terlampau tajam.
Komponen biaya avtur yang melambung tinggi memaksa manajemen maskapai putar otak dan menghentikan perjalanan tertentu yang biaya operasionalnya sudah melampaui potensi pendapatan dari tiket penumpang.
Menariknya, pernyataan ini mencuat di tengah presentasi inisiatif baru Uni Eropa bertajuk Satu perjalanan, satu tiket, hak penuh.
Program ini sengaja digenjot untuk mengintegrasikan perjalanan kereta api di seluruh Eropa, sekaligus menjadi solusi alternatif bagi warga yang mobilitasnya terganggu akibat pemangkasan jadwal pesawat.
Melansir laporan dari Anadolu Ajensi, meroketnya harga energi global ini tidak lepas dari eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Ketegangan di Timur Tengah tersebut sukses mengocok ulang pasar minyak dunia dan mengerek harga avtur ke level tertinggi.
Dampak paling signifikan langsung dirasakan oleh Lufthansa Group. Maskapai raksasa asal Jerman ini mengumumkan rencana besar-besaran untuk memangkas sekitar 20.000 jadwal penerbangan jarak pendek. Pemangkasan ini akan terus berjalan hingga musim panas berakhir pada Oktober mendatang.
Melalui efisiensi gila-gilaan ini, Lufthansa Group membidik target penghematan energi yang luar biasa, yakni menekan konsumsi hingga lebih dari 40.000 metrik ton avtur.
Agar perusahaan tidak mengalami pendaratan darurat secara finansial, Lufthansa memilih mengorbankan rute-rute pendek yang berbasis di dua hub utama mereka di Jerman, yaitu Bandara Frankfurt dan Bandara Munich.
Kedua hub ini menjadi fokus pencoretan jadwal karena rute pendek di sana dinilai sudah tidak menghasilkan laba sama sekali di tengah situasi pasar saat ini.
Meski demikian, para pelaku perjalanan internasional tidak perlu sepenuhnya panik. Lufthansa Group memastikan bahwa mereka tetap melakukan optimalisasi di enam hub utama Eropa lainnya.
Sebagai strategi penyesuaian, layanan penerbangan di kota-kota strategis seperti Zurich (Swiss), Wina (Austria), dan Brussels (Belgia) justru akan diperkuat.
Langkah adaptif ini diharapkan mampu menjaga napas operasional maskapai, mengingat harga avtur diprediksi masih akan terus berfluktuasi dalam beberapa bulan ke depan. (*)



















