TOPMEDIA – Perang yang berkecamuk di Timur Tengah semakin memperburuk kondisi perekonomian global. Harga minyak dan komoditas melonjak, rantai pasok perdagangan terganggu, dan inflasi dunia diperkirakan naik menjadi 4,2 persen. Prospek pertumbuhan ekonomi global 2026 pun melambat ke level 3,0 persen dari prakiraan sebelumnya 3,1 persen.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa Indonesia harus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter agar ketahanan ekonomi tetap terjaga.
“Memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global mengharuskan penguatan respons kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan domestik,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).
Menurut Perry, indikator terkini menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2026 tetap positif, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi bangunan.
Momentum Idul Fitri 1447 H turut meningkatkan permintaan domestik, sementara program prioritas pemerintah memperkuat investasi.
“Konsumsi rumah tangga naik didukung keyakinan pelaku ekonomi dan kondisi penghasilan yang terjaga. Belanja pemerintah juga meningkat seiring pemberian THR dan belanja sosial,” jelasnya.
BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada di kisaran 4,9–5,7 persen.
Perry menekankan bahwa bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran akan terus diperkuat bersama pemerintah untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan.
Selain itu, Perry menyoroti ketahanan perbankan nasional yang tetap kuat menghadapi dampak rambatan perang Timur Tengah.
Likuiditas perbankan memadai, rasio kecukupan modal (CAR) tinggi sebesar 25,83 persen, dan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah di level 2,17 persen bruto.
“Hasil stress test BI menunjukkan perbankan Indonesia mampu menyerap risiko dan tetap mendukung pertumbuhan kredit,” tegasnya.
Dampak Global
Perang Timur Tengah juga memengaruhi pasar keuangan internasional. Penurunan Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan mundur hingga akhir 2026, imbal hasil US Treasury meningkat akibat defisit fiskal AS, dan aliran modal global bergeser ke aset aman.
Indeks dolar AS (DXY) terus menguat, sementara mata uang emerging markets tertekan. Kondisi ini mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global.
Perry menegaskan bahwa BI bersama pemerintah akan terus memperkuat kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal dan stabilitas sistem keuangan.
“Kami berkomitmen menjaga stabilitas dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya. (*)



















