TOPMEDIA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan pada Maret 2026 turun menjadi 0,41 persen (month-to-month/mtm), lebih rendah dibandingkan Februari yang mencapai 0,68 persen.
Meski inflasi melambat, Indeks Harga Konsumen (IHK) justru meningkat dari 110,57 pada Februari menjadi 110,95 pada Maret.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan angka 1,07 persen dan andil 0,32 persen.
“Komoditas dominan yang mendorong inflasi adalah ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, serta daging sapi,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Ateng menambahkan bahwa beberapa komoditas justru memberikan andil deflasi, seperti tarif angkutan udara dan emas perhiasan masing-masing sebesar 0,03 persen.
“Seiring normalisasi permintaan pascahari raya, pelaku industri menurunkan tingkat produksi untuk menyeimbangkan supply dan demand. Hal ini berdampak pada harga komoditas tertentu yang mengalami penurunan,” jelasnya.
Bila ditinjau berdasarkan komponen, inflasi Maret 2026 utamanya didorong oleh volatile food dengan andil 0,27 persen.
Komoditas utama yang memengaruhi adalah daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi.
Sementara itu, core inflation menyumbang 0,08 persen, terutama dari minyak goreng dan nasi dengan lauk.
Adapun administered price memberikan andil 0,06 persen, dipengaruhi bensin, tarif angkutan antarkota, dan Sigaret Kretek Mesin (SKM).
Secara wilayah, tercatat 34 provinsi mengalami inflasi bulanan, sedangkan 4 provinsi mengalami deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan sebesar 2,57 persen, sementara deflasi terdalam terjadi di Maluku sebesar 0,75 persen.
Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3,48 persen (year-on-year/yoy), sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 0,94 persen (year-to-date/ytd).
Ateng menegaskan bahwa angka ini masih dalam batas kendali. “Inflasi tahunan tetap terkendali di bawah 4 persen, menunjukkan stabilitas harga meski ada tekanan dari komoditas pangan,” katanya.
Meski volatile food masih menjadi faktor dominan, pemerintah dinilai berhasil menjaga inflasi tahunan tetap terkendali.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian harga pangan dan distribusi logistik menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat. (*)



















