Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Hadapi Dampak Konflik Selat Hormuz, BPOM Antisipasi Kenaikan Harga Obat-Obatan dalam Negeri

×

Hadapi Dampak Konflik Selat Hormuz, BPOM Antisipasi Kenaikan Harga Obat-Obatan dalam Negeri

Sebarkan artikel ini
BPOM RI berkoorninasi dengan industri untuk menjaga ketersediaan obat dalam negeri di tengah ancaman konflik Selat Hormuz. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan bahan baku obat-obatan dan harga yang melonjak.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berusaha memitigasi dampak konflik geopolitik tersebut, termasuk mengantisipasi potensi kenaikan harga obat-obatan di dalam negeri.

HALAL BERKAH

Peningkatan biaya produksi, tersendatnya pengiriman, serta naiknya harga minyak dunia disebut berpengaruh langsung terhadap distribusi obat di Indonesia.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menjelaskan, BPOM melakukan pengawasan berbasis teknologi, optimalisasi kapasitas produksi obat, serta pendampingan bagi industri farmasi dalam negeri.

“Harapan kami, langkah cepat Badan POM ini bisa mengawal supaya tidak terjadi kelangkaan obat dan juga tidak terjadi peningkatan harga obat yang signifikan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
BPOM juga berkolaborasi dengan lembaga terkait untuk memastikan ketersediaan dan harga obat tetap stabil.

Baca Juga:  322 Ribu Ton Kedelai Tersedia, Bapanas Jamin Produksi Tahu-Tempe Lancar

“Melalui strategi lintas sektoral, kami berupaya memitigasi risiko dan menjaga ketahanan kesehatan nasional,” tambahnya.

Penutupan jalur Selat Hormuz membuat harga minyak dunia melonjak dan memengaruhi distribusi obat-obatan.

Meski Iran tidak memproduksi obat dalam skala besar, bahan baku aktif farmasi (API) bergantung pada prekursor petrokimia yang harus melewati jalur tersebut.

Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko Rantai Pasokan Moody’s, David Weeks, menegaskan bahwa keterlambatan pengiriman prekursor petrokimia menjadi faktor utama gangguan pasokan.

“Kekurangan yang memengaruhi obat-obatan disebabkan oleh keterlambatan pengiriman prekursor petrokimia yang digunakan untuk memproduksi bahan aktif farmasi, dan dalam beberapa kasus oleh penghentian produksi sepenuhnya,” ujarnya dikutip dari The Guardian.

Baca Juga:  Tumbuh 9,6 Persen, Uang Beredar Tembus Rp 10.133 Triliun di Desember 2025

Taruna menegaskan bahwa BPOM akan terus mengawal ketersediaan obat di dalam negeri dengan strategi pengawasan modern dan dukungan terhadap industri farmasi nasional.

“Kami berkomitmen menjaga agar masyarakat tetap mendapatkan akses obat yang aman dan terjangkau, meski ada tekanan dari situasi global,” pungkasnya. (*)

TEMANISHA.COM