Film keluarga yang disutradarai Ryan Andriandhy ini mengisahkan kehidupan sehari-hari seorang gadis kecil bernama Na Willa atau Luisa Adreena.
Ia digambarkan sebagai anak berusia enam tahun yang tinggal di sebuah gang di wilayah Krembangan, Kota Surabaya, pada era 1960-an.
Melalui sudut pandang anak-anak yang polos dan penuh rasa ingin tahu, penonton diajak menyelami dinamika kehidupan keluarga multikultural yang hangat dan penuh makna.
Kisah dalam film tersebut juga menampilkan latar belakang keluarga Na Willa yang beragam. Ibunya berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), sedangkan ayahnya merupakan keturunan Tionghoa.
Interaksi keluarga dan lingkungan sekitar menjadi gambaran kehidupan sosial masyarakat yang sarat nilai kebersamaan.
Berbagai pengalaman sederhana masa kecil yang ditampilkan dalam film ini mencerminkan proses pertumbuhan, keberagaman budaya, serta perubahan zaman di Kota Surabaya.
Wali Kota Eri Cahyadi menilai film Na Willa merepresentasikan kehidupan nyata masyarakat Surabaya pada masa lalu.
Menurutnya, film tersebut menunjukkan bagaimana hubungan pertemanan terjalin tanpa memandang perbedaan suku maupun agama. Bahkan ketika ada teman yang mengalami keterbatasan, mereka tetap saling menerima dan menjaga kebersamaan.
Ia menambahkan bahwa nilai kebersamaan pada masa lalu patut dijadikan teladan, termasuk dalam cara orang tua mendidik anak dengan penuh kejujuran dan kepedulian.
Hubungan antarwarga juga digambarkan saling mendukung dan menjaga keharmonisan lingkungan.
Melalui film ini, Wali Kota Eri berharap masyarakat Surabaya dapat terus menjaga kerukunan dan semangat kebersamaan. Terlebih dengan adanya program Kampung Pancasila, warga diharapkan semakin mengedepankan sikap toleransi dan saling menghargai.
Ia juga berharap semangat kebersamaan yang digambarkan dalam kehidupan Na Willa dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mewujudkan Surabaya yang sejahtera, damai, dan penuh keberkahan.