TOPMEDIA – Agar dapat maju, berkembang, dan naik kelas, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar tidak sekadar berjualan tanpa strategi, melainkan melek bisnis dan mampu berdikari pangan.
Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan menyikapi masih banyak UMKM yang menjalankan usaha dengan “gaya lama” bermodal nekat tanpa perencanaan matang.
Putra menilai potensi besar pelaku usaha lokal harus diimbangi dengan literasi bisnis.
“Kita ingin memastikan yang tumbuh bukan cuma industrinya secara statistik, tapi juga kesejahteraan pelakunya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).
Ia mencontohkan perajin batik di Ciracas atau Pulo Gadung yang perlu menjual filosofi di balik motif batik agar produk memiliki nilai lebih.
Begitu pula dengan pelaku usaha parfum di Condet atau kuliner legendaris di Jatinegara yang bisa mengangkat cerita di balik produknya.
“Lewat melek bisnis, kita ingin peracik parfum tidak cuma jual parfum, tapi jual cerita di balik aromanya,” tambahnya.
Modal dan KUR
Putra menyoroti masalah modal yang kerap menjadi keluhan klasik UMKM. Menurutnya, banyak pelaku usaha masih enggan memanfaatkan fasilitas perbankan karena kurang memahami mekanismenya. Ia menekankan pentingnya Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai pendorong bisnis.
“Bunganya rendah, syaratnya juga nggak ribet, asal punya izin usaha (NIB) dan usahanya beneran jalan. Jadi, jangan biarkan ide bagus mati cuma gara-gara tidak punya modal,” jelasnya.
UMKM dan Ketahanan Pangan
Selain literasi bisnis, Putra menekankan pentingnya keterkaitan sektor pariwisata dengan ketahanan pangan.
Ia mengingatkan bahwa krisis pangan global harus diantisipasi dengan pemanfaatan lahan.
“Apalah artinya tempat wisata bagus kalau rakyatnya masih cemas soal makan? Jangan biarkan sejengkal tanah pun di halaman menganggur,” tegasnya.
Dengan strategi yang lebih matang, UMKM diharapkan tidak hanya sekadar berjualan, tetapi mampu berdikari, berdaya saing, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*)



















