TOPMEDIA, JAKARTA – Rentetan kecelakaan pelayaran yang terjadi di Masalembo, kini nama Masalembo menjadi pembicaraan karena menjadi lokasi kecelakaan dari KM Virgo Transport 8. Penuh misteri, Masalembo kerap disebut sebagai Segitiga Bermuda Nusantara.
Meski berlokasi diantara Laut Jawa, Selat Makasar dan Laut Flores Masalembo masuk dalam wilayah administrasi Sumenep, Jawa Timur.
Dengan banyaknya peristiwa kecelakaan yang menenggelamkan kapal, Masalembo sebagai titik yang penuh misteri.
Seorang Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr.-Ing. Widodo S. Pranowo, S.T., M.Si. memaparkan pandangannya terkait kecelakaan KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Masalembo pada 13 September 2026.
“Yang berbahaya di Masalembo bukan tinggi gelombangnya, melainkan iramanya, atau dalam bahasa ilmiahnya adalah periode gelombang,” ucapnya.
Kawasan laut Masalembo memiliki laut dangkal, hal itu yang membuat gelombangnya pendek tetapi curam. Gelombang itu datang berulang setiap lima sampai enam detik. Situasi tersebut membuat kapal tidak sempat kembali tegak, namun gelombang terus menghantam lambungnya.
Kemudian arus pasang surut yang kuat, pertemuan gelombang dari beberapa arah sekaligus, awan badai yang tumbuh cepat pada malam hari, serta jarak yang jauh dari pelabuhan mana pun, lengkaplah kombinasi mematikan di laut Masalembo.
“Selain faktor alam, kita juga harus memperhatikan perbandingan antara tinggi kapal dengan tinggi gelombang, dan panjang kapal dengan panjang gelombang,” ungkapnya.
Dalam sebuah teori, jika panjang kapal melebihi tingi gelombang, dan panjang kapal melebihi panjang gelombang, maka secara teoritis seharusnya kapal bisa aman membelah gelombang tersebut.
Ini bukan lagi soal dan keterkaitan kondisi kapal dan beban muatan yang diangkut. Artinya, jika terjadi kecelakaan kapal di laut, gelombang laut dan cuaca bukan sebagai faktor tunggal penyebab kecelakaan tersebut.
Secara faktor oseanografi menjadi salah satu penyebab yang harus diwaspadai di Masalembo. Kombinasi kedalaman laut membuat pergerakan gelombang bervariasi.
“Dasar laut yang dalam bisa tiba-tiba drastis mendangkal, ini bisa membuat panjang gelombang memendek dan frekuensinya meningkat, jelas pengajar Program Studi Pascasarjana Magister (S2) Hidro-Oseanografi di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) itu.
Masalembo merupakan wilayah persimpangan antara Laut Bali, Laut Jawa, Selat Lombok, Laut Flores dan Selat Makassar.
Ketika memasuki bulan Juni – Agustus, hal itu bersamaan diikuto dengan angin musim timur, terdapat aliran massa air dari Samudra Pasifik yang menuju ke Samudra Hindia, melewati selat Makassar, dan sebagian ada yang berbelok menuju ke laut jawa di kedalaman tertentu.
Debit aliran massa air tersebut, ketika melewati Selat Makassar bisa sebanyak 11,6 juta meter kubik per detik. Jika seperempatnya saja ada yang belok ke Laut Jawa, alirannya masih sangat banyak.
“Satu lagi, interaksi arus tersebut dengan pasang surut, menyebabkan kompleksnya oseanografi di Masalembo,” ungkap Anggota Dewan Penasihat Ilmiah di Korea-Indonesia Marine Technology Cooperation & Research Center (MTCRC) itu.
Sementara itu, saat musim angin barat yang membawa curah hujan, potensi angin lebih kencang dan Masalembo akan semakin berbahaya. Namun, kecelakaan KM Virgo terjadi pada bulan September.
“Berdasarkan citra satelit himawari dan radar, kondisi angkasa di atas Laut Jawa pada saat itu cerah tanpa awan, bisa dikatakan tidak ada cuaca buruk, namun lebih lengkapnya bisa diklarifikasikan kepada BMKG,” jelasnya.
Menurut hasil analisisnya, Widodo emenrangkan bahwa kecelakaan dapat terjadi pada kondisi gelombang yang tergolong sedang. Syaratnya, apabila kestabilan kapal tidak memadai. Inilah mengapa, peringatan dini gelombang tinggi saja tidak cukup.
“Yang dibutuhkan adalah peringatan berbasis risiko kapal, bukan sekadar berbasis tinggi gelombang, dan pemeriksaan muatan yang sungguh-sungguh sebelum kapal di lepas berlayar,” terangnya.
Penyebab kapal terbalik tidak hanya karena angka tinggi gelombang saja, namun kapal terbalik karena hubungan antara gelombang, arah haluannya, kecepatannya, dan kondisi muatannya.
Menurutnya, jika ada dua kapal yang berlayar di kondisi gelombang yang sama persis, belum tentu nasibnya sama.
Korban Selamat KM Virgo Transport 8
Berdasarkan data terbaru dari Basarnas dan Tim SAR Gabungan, jumlah korban yang selamat berjumlah 108 orang, 12 orang meninggal dan 123 orang masih dalam pencarian.
Widodo menuturkan bahwa laut bekerja melalui tiga jalan sekaligus pada penumpang, yaitu memindahkan, menguras tenaga, dan menyembunyikan mereka dari pandangan penolong.
“Simulasi kami menunjukkan bahwa orang yang terapung di lokasi itu hanyut sekitar 15 mil laut dalam 24 jam ke arah barat laut. Sekelompok orang yang jatuh di titik yang sama pada detik yang sama akan tercerai-berai puluhan mil dalam sehari, hanya karena sebagian mengapung lebih tinggi daripada yang lain,” jelasnya.
Orang yang mengapung akan terbawa ke arah barat sampai barat laut, kemudian ia menjauhi Pulau Masalembo, menuju bagian tengah Laut Jawa yang lebih terbuka.
Arus total di Masalembo rata-rata 0,30 meter per detik, sesekali mencapai 0,54 meter per detik, atau sekitar satu knot.
Kondisi itu, dicontohkan Widodo bahwa seorang perenang yang sangat bugar sekalipun hanya sanggup mempertahankan sekitar setengah knot dalam waktu singkat.
Artinya, melawan arus adalah usaha yang pasti kalah. Yang harus dilakukan saat terlempar ke laut adalah menghemat tenaga, tetap mengapung, dan tetap terlihat.
Jika ada dua orang penyintas yang mengapung, keduanya berangkat dari titik yang sama, pada detik yang sama, di laut yang sama. Yang membedakan hanya satu hal, seberapa tinggi tubuh mengapung.
Kemudian dijelaskan bahwa hal lain yang membuat korban selamat adalah hanyutan Stokes, yaitu sebuah dorongan ke depan yang diberikan oleh gelombang itu sendiri kepada benda di lapisan paling atas air. Orang yang lebih terendam tidak merasakan dorongan itu sepenuhnya.
Dengan begitu, setelah 24 jam keduanya sudah terpisah sejauh 6,4 mil laut, dan setelah 72 jam terpisah 17,9 mil laut.
Itulah sebabnya penyintas sebuah kecelakaan laut hampir tidak pernah ditemukan berkumpul, melainkan tersebar memanjang mengikuti satu garis hanyutan.
“Inilah sebabnya orang yang ditemukan paling jauh dari bangkai kapal belum tentu orang yang paling lama bertahan, bisa jadi ia hanya kebetulan mengapung paling tinggi,” analisisnya. (ton)



















