Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Di Awal Tahun, Dunia Usaha Melambat, Industri Pengolahan Tetap Jadi Motor Ekonomi

×

Di Awal Tahun, Dunia Usaha Melambat, Industri Pengolahan Tetap Jadi Motor Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Pertumbuhan dunia usaha melambat, namun sektor industri pengolahan tetap ekspansif dengan PMI di atas 52%. (Foto: Humas Pemprov Jatim)
toplegal

TOPMEDIA – Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan I-2026 yang menunjukkan aktivitas usaha masih terjaga, meski pertumbuhannya melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) tercatat 10,11%, lebih rendah dari 10,61% pada triwulan IV-2025.
Perlambatan ini terjadi meski periode awal tahun bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idul Fitri 1447 H yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat.

HALAL BERKAH

Kinerja Dunia Usaha

Dalam keterangan resmi, BI menyebut peningkatan permintaan masyarakat pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Imlek, Nyepi, Ramadan, dan Idul Fitri turut menopang aktivitas usaha.

Survei terhadap lebih dari 3.300 pelaku usaha menunjukkan mayoritas Lapangan Usaha (LU) mencatat kinerja positif, terutama LU Jasa Keuangan, Pertanian, Industri Pengolahan, serta Perdagangan Besar dan Eceran.

Baca Juga:  Ini Syarat dari Kadin DIY Bagi Investor yang Ingin Masuk ke Gunungkidul

Kapasitas produksi terpakai naik menjadi 73,33% dari 73,15% pada kuartal sebelumnya, didukung sektor pertanian dan industri pengolahan.

Kondisi keuangan dunia usaha juga masih baik, meski likuiditas turun tipis dari 18,72% menjadi 17,05%.

Hal ini menunjukkan bahwa meski ada tekanan global, dunia usaha Indonesia masih mampu menjaga stabilitas operasional.

Industri Pengolahan Jadi Penopang Ekspansi

Sementara itu, BI mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) kuartal I-2026 sebesar 52,03%, naik dari 51,86% pada kuartal sebelumnya. Angka di atas 50% menandakan sektor ini masih tumbuh ekspansif.

“Berdasarkan komponen pembentuknya, Volume Persediaan Barang Jadi, Volume Produksi, dan Volume Total Pesanan tercatat berada pada fase ekspansi,” terang Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga:  Indonesia Luncurkan Laporan eTrade Readiness Assessment, Dorong UMKM Masuk Pasar Global

Subsektor dengan indeks tertinggi antara lain industri kertas, kulit dan alas kaki, serta makanan dan minuman.

Pada kuartal II-2026, PMI diperkirakan meningkat menjadi 52,26% dengan dorongan dari produksi dan pesanan baru.

Mayoritas subsektor diperkirakan tetap berada dalam fase ekspansi, termasuk industri furnitur dan percetakan.

Responden memperkirakan kegiatan usaha triwulan II-2026 akan meningkat dengan SBT 14,80%.
Pertumbuhan diperkirakan bersumber dari sektor pertanian seiring musim panen, pertambangan karena penurunan curah hujan, serta konstruksi dengan dimulainya sejumlah proyek besar.

Selain itu, BI menilai sektor perdagangan besar dan eceran akan tetap tumbuh seiring meningkatnya daya beli masyarakat pasca-HBKN.

Sektor jasa keuangan juga diperkirakan tetap solid karena dukungan pembiayaan dari perbankan dan lembaga keuangan non-bank.

Baca Juga:  Pertagas Catatkan Kenaikan Laba Bersih 21,43 Persen, Siapkan Investasi USD75 Juta di 2026

Perlambatan SBT di awal tahun menunjukkan adanya tantangan struktural yang perlu diantisipasi, seperti biaya logistik yang meningkat dan ketidakpastian global.

Namun, ekspansi industri pengolahan menjadi sinyal positif bahwa daya saing manufaktur Indonesia masih terjaga.

BI menekankan pentingnya menjaga momentum ekspansi dengan memperkuat diversifikasi produk, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperluas pasar ekspor.

“Dukungan kebijakan fiskal dan moneter juga diharapkan mampu menjaga stabilitas dunia usaha di tengah dinamika global,” jelasnya.

Selain itu, subsektor industri makanan dan minuman diperkirakan tetap menjadi tulang punggung ekspor non-migas, sementara subsektor kulit dan alas kaki berpotensi memperluas pasar ke Asia dan Eropa.

Industri furnitur juga diprediksi akan tumbuh seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk berbasis kayu dan rotan dari Indonesia. (*)

TEMANISHA.COM