Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Bukti Resiliensi Ekonomi, Industri Manufaktur Catat Lonjakan Investasi Rp 418 Triliun

×

Bukti Resiliensi Ekonomi, Industri Manufaktur Catat Lonjakan Investasi Rp 418 Triliun

Sebarkan artikel ini
Peningkatan investasi menunjukkan daya tahan industri manufaktur Indonesia di tengah tekanan global. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Industri manufaktur Indonesia masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian. Sektor ini mencatat capaian signifikan pada kuartal pertama 2026.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan sebanyak 633 perusahaan industri melaporkan pembangunan fasilitas produksi baru dengan total nilai investasi mencapai Rp 418,62 triliun serta rencana penyerapan tenaga kerja sebanyak 219.684 orang.

HALAL BERKAH

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan bahwa tren positif ini mencerminkan daya tahan tinggi sektor manufaktur menghadapi tekanan global.

“Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasi semakin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ini bukti bahwa struktur industri Indonesia semakin kokoh,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/4/2026).

Baca Juga:  Sektor Pariwisata Menyumbang Rp 232 Triliun Devisa ke Negara

Febri menambahkan, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada 2025 mencapai 5,30 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.

Capaian ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir, pertumbuhan industri pengolahan kembali melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Data menunjukkan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB nasional terus meningkat sejak 2022.
Pada triwulan II 2022, kontribusi tercatat 17,92 persen, naik menjadi 19,20 persen pada triwulan IV 2025. Kenaikan ini menegaskan peran manufaktur sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi tenaga kerja, sektor pengolahan nonmigas juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Sakernas, jumlah tenaga kerja meningkat dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025, level tertinggi selama periode pengamatan.

Baca Juga:  Mayoritas Desa di Jawa Timur Masih Bergantung pada Pertanian, Potensi Industri dan Jasa Mulai Tumbuh

Pembangunan fasilitas produksi paling banyak dilaporkan oleh subsektor Industri Pengolahan Tembakau (72 perusahaan), Industri Minuman (67 perusahaan), dan Industri Makanan (60 perusahaan).

Dari sisi nilai investasi, subsektor Industri Logam Dasar menjadi kontributor terbesar dengan Rp 218,04 triliun, diikuti Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia sebesar Rp 81,22 triliun.

Sementara itu, subsektor Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki menonjol dalam penciptaan lapangan kerja dengan rencana serapan 37.350 tenaga kerja.

Hal ini menunjukkan bahwa selain padat modal, beberapa subsektor juga memiliki karakter padat karya yang signifikan.

Febri menegaskan bahwa ketahanan sektor manufaktur Indonesia terlihat jelas ketika banyak negara menghadapi tekanan rantai pasok global, fluktuasi harga energi, dan tensi geopolitik.

Baca Juga:  Realisasi KUR 2025 Capai Rp270 Triliun, Didominasi Penyaluran ke Sektor Produktif

“Di tengah situasi global yang tidak menentu, industri nasional tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan resiliensi yang sangat kuat dan daya saing industri Indonesia terus meningkat,” katanya.

Kemenperin optimistis tren positif ini akan berlanjut seiring implementasi kebijakan hilirisasi, substitusi impor, penguatan TKDN, transformasi industri 4.0, serta perluasan pasar ekspor nontradisional. (*)y

TEMANISHA.COM