TOPMEDIA – Lonjakan harga dan kelangkaan plastik di pasar domestik membuat pemerintah bergerak cepat mencari solusi. Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyebut bahwa pemerintah tengah menyiapkan bahan baku alternatif dari singkong, rumput laut, hingga bambu untuk menggantikan plastik konvensional.
Maman menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik dipicu oleh gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Nafta yang menjadi bahan baku utama plastik sebagian besar berasal dari negara-negara Timur Tengah. Konflik di jalur distribusi seperti Selat Hormuz menghambat pasokan dan mendorong kenaikan harga plastik secara signifikan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (9/4/2026).
Dampak ke UMKM dan Industri
Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik masih tinggi, mencapai 55 persen, dengan sekitar 70 persen distribusi melewati Selat Hormuz.
Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku usaha kecil, terutama di sektor makanan dan minuman yang bergantung pada kemasan plastik.
Data industri menunjukkan kelangkaan bahan baku telah menekan kapasitas produksi hingga menyebabkan sebagian lini usaha berhenti beroperasi. Di tingkat UMKM, biaya produksi melonjak dan omzet turun hingga 50 persen.
Maman menilai situasi ini sebagai peluang untuk memperkuat ekosistem usaha berkelanjutan.
“Ini bukan hanya solusi atas krisis pasokan, tetapi juga peluang untuk membangun industri hijau berbasis potensi lokal,” tegasnya.
Menurutnya, bahan seperti rumput laut dan singkong sudah mulai dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik, meski biaya produksi masih tinggi karena permintaan belum stabil.
“Jika kebijakan diarahkan untuk memperkuat substitusi bahan baku dari nafta ke rumput laut, maka permintaan akan tumbuh dan biaya produksi dapat ditekan,” tambahnya.
Pemerintah menyiapkan dua strategi besar. Pertama strategi jangka pendek, yakni membuka pasokan bahan baku dari negara di luar kawasan konflik seperti Afrika, India, dan Amerika.
Dan strategi jangka panjang dengan mendorong pengembangan bahan baku alternatif berbasis sumber daya lokal dan memperkuat dukungan bagi UMKM.
Langkah ini akan disertai kebijakan pendukung seperti subsidi penggunaan bioplastik, penguatan rumah kemasan bersama, serta pelatihan dan pendampingan pelaku usaha. (*)



















