TOPMEDIA – Sejumlah prajurit di Amerika Serikat dilaporkan mulai mencari cara untuk menghindari kemungkinan penugasan dalam konflik melawan Iran. Hal ini diungkapkan oleh Mike Prysner, direktur eksekutif lembaga advokasi tentara, Center on Conscience & War.
Menurut Prysner, layanan hotline yang disediakan lembaganya belakangan menerima lonjakan panggilan dari tentara aktif. Para prajurit tersebut meminta informasi mengenai cara menolak keterlibatan dalam perang yang mereka anggap keliru. Informasi itu ia sampaikan melalui akun media sosial X, seperti dikutip laporan WANA pada Sabtu (7/3/2026).
Lembaga yang dipimpinnya membuka jalur bantuan bagi tentara yang menolak ikut serta dalam konflik yang dikaitkan dengan operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Selain menerima aduan, organisasi tersebut juga memberi panduan hukum bagi prajurit yang ingin menolak tugas tempur.
Prysner menyebut jumlah tentara yang berpotensi dikirim ke kawasan Timur Tengah kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan angka yang selama ini disampaikan oleh Pentagon kepada publik. Kondisi itu memicu kekhawatiran di kalangan prajurit aktif, yang akhirnya membuat hotline lembaga tersebut terus menerima panggilan.
“Dengan diumumkannya kematian pertama warga Amerika dari perang immoral, banyak prajurit mulai mempertanyakan peran mereka. Peran kami adalah mencari mereka, membela mereka, dan membantu membawa mereka pulang,” kata Prysner.
Laporan intelijen AS
Di sisi lain, sebuah dokumen rahasia berisi analisis intelijen menyimpulkan bahwa bahkan serangan militer besar sekalipun belum tentu mampu menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran. Laporan yang diperoleh The Washington Post dan dikutip oleh Al Mayadeen pada Sabtu (7/3/2026) menyebut struktur kepemimpinan ulama serta militer Iran sangat solid sehingga dinilai mampu mempertahankan sistem pemerintahannya meski menghadapi tekanan berat dari luar.
Temuan tersebut muncul di tengah sinyal dari pemerintahan Donald Trump yang membuka kemungkinan konflik berkepanjangan dengan Iran. Bahkan, sejumlah pejabat disebut menyatakan bahwa perang tersebut “baru saja dimulai”.
Menurut tiga sumber yang mengetahui isi dokumen itu, kalangan intelijen Amerika meragukan rencana Trump untuk “membersihkan” kepemimpinan Iran dan menggantinya dengan pemimpin yang lebih sejalan dengan kepentingan Washington.
Analisis lengkap tersebut disusun oleh National Intelligence Council sekitar sepekan sebelum serangan militer dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Dalam kajiannya, lembaga itu mengevaluasi beberapa kemungkinan skenario, mulai dari serangan terbatas yang menargetkan tokoh senior Iran hingga operasi yang lebih luas yang menyasar lembaga pemerintahan serta pimpinan politik negara tersebut.
Para analis menyimpulkan bahwa jika pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, terbunuh, para ulama dan pimpinan militer Iran hampir pasti akan mengaktifkan mekanisme konstitusi untuk menjaga kelangsungan pemerintahan.
Selain itu, laporan tersebut juga menilai kelompok oposisi di Iran saat ini masih terpecah-pecah, sehingga kecil kemungkinan mampu mengambil alih kekuasaan. Sumber yang dikutip Washington Post bahkan menggambarkan skenario pengambilalihan pemerintahan oleh oposisi sebagai sesuatu yang sangat kecil kemungkinannya.
Sebagai informasi, National Intelligence Council beranggotakan para analis senior yang bertugas menyusun penilaian rahasia berdasarkan gabungan analisis dari 18 badan intelijen Amerika Serikat. (*)



















