TOPMEDIA – Fenomena langka terjadi di Mount Holyoke College, Massachusetts, Amerika Serikat, ketika salah satu spesies bunga bangkai asal Sumatera, Titan arum atau Amorphophallus titanum, kembali mekar pada April 2026.
Bunga yang dijuluki “Pangy” ini sebelumnya mekar pada 2023 dan kini kembali menarik perhatian warga kampus dengan aroma khasnya yang menyengat.
Dalam unggahan resmi di media sosial, pihak kampus menyampaikan bahwa Pangy mekar untuk pertama kalinya setelah tiga tahun.
“Bunga bangkai kami, sejenis Titan arum bernama Pangy, mekar untuk pertama kalinya setelah tiga tahun! Sementara beberapa siswa merasa senang, yang lain memiliki pengamatan lebih menarik,” tulis pihak kampus.
Mekarnya bunga ini hanya berlangsung sekitar 24 hingga 36 jam sebelum layu, sehingga menjadi momen langka yang dinanti.
Titan arum berasal dari Pulau Sumatera dan dikenal memiliki siklus mekar yang sangat panjang, biasanya antara lima hingga tujuh tahun sekali.
Tanaman ini menyimpan energi di umbi besar yang beratnya bisa mencapai 100 pon. Jika tidak berbunga, tanaman akan menumbuhkan daun besar menyerupai pohon kecil untuk mengumpulkan energi hingga siap mekar kembali.
Direktur dan kurator Kebun Raya Mount Holyoke College, Tom Clark, menjelaskan bahwa bau menyengat bunga bangkai memiliki tujuan evolusioner.
“Beberapa orang menggambarkan baunya sebagai bau yang tak tertahankan, tajam, seperti tempat sampah, sangat menyengat. Tetapi bau itu ada untuk suatu tujuan, yakni menarik penyerbuk, khususnya lalat,” ujarnya kepada Associated Press.
Peneliti sebelumnya juga menemukan alasan kimiawi di balik aroma khas Titan arum. Senyawa volatil yang dilepaskan bunga ini meniru bau daging busuk, sehingga menarik serangga yang berperan sebagai penyerbuk.
Ancaman Kepunahan
Amorphophallus titanum terdaftar sebagai spesies terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Populasinya diperkirakan kurang dari 1.000 individu di alam liar, dengan penurunan lebih dari setengahnya dalam 150 tahun terakhir.
Penebangan hutan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit disebut sebagai penyebab utama berkurangnya habitat alami bunga bangkai. (*)



















