TOPMEDIA – Ribuan imigran Maroko nekat berenang dan menyeberang laut menuju wilayah Spanyol di Ceuta. Padahal, gelombang migrasi itu telah menewaskan sedikitnya 72 orang sampai saat ini.
Fenomena warga Maroko nekat berenang menuju wilayah Spanyol terutama menuju enklave di Afrika Utara seperti Ceuta dan Melilla tersebut dipicu oleh kombinasi faktor geografis, ekonomi, dan kebijakan perbatasan.
Seperti diketahui, perbatasan darat dan pantai Ceuta dan Melilla memiliki dua kota enklave di pantai Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Maroko.
Di beberapa titik seperti dari kota Fnideq di Maroko ke Ceuta, jarak renang mengitari pagar perbatasan laut hanya beberapa ratus meter.
Meskipun harus melintasi Selat Gibraltar (jarak terdekat sekitar 14 km) jauh lebih berbahaya, kedekatan fisik antara benua Afrika dan Eropa ini membuat jalur laut terlihat seperti opsi yang memungkinkan bagi mereka yang putus asa.
Faktor Ekonomi dan Kesempatan Kerja
Tingginya tingkat pengangguran di kalangan pemuda Maroko, khususnya di wilayah utara yang minim lapangan kerja industri, menjadi penyebab gelombang migrasi ini. Ada pula faktor ketimpangan kesejahteraan.
Akses masuk ke Ceuta atau daratan Spanyol dianggap sebagai pintu gerbang menuju Uni Eropa untuk memperoleh gaji yang lebih tinggi, kehidupan yang lebih stabil, dan pengiriman uang (remitansi) untuk keluarga di kampung halaman.
Polisi Spanyol Memperketat Jalur Perbatasan Darat dan Hukum
Perbatasan darat Ceuta dan Melilla dilindungi oleh tembok dan pagar ganda bertingkat tinggi dengan kawat berduri dan sensor. Menembus pagar darat sangat sulit dan berbahaya.
Pemerintah Spanyol mengambil tindakan pada penyelundup. Jalur perahu (pateras) sering diintai oleh patroli laut. Berenang mengitari pembatas pantai atau dermaga menjadi opsi mandiri tanpa harus membayar mahal kepada jaringan penyelundup manusia.
Dalam hal ini, Spanyol memiliki kebijakan perlindungan anak di bawah umur (minors). Banyak di antara mereka yang berenang adalah remaja atau anak di bawah umur (menores no acompañados).
Berdasarkan hukum Spanyol dan internasional, anak di bawah umur yang berhasil mencapai wilayah Spanyol tidak bisa langsung dideportasi seketika, melainkan harus ditampung di pusat perlindungan sosial. Hal ini menjadi dorongan kuat bagi anak-anak muda untuk mengambil risiko tersebut.
Dinamika Hubungan Diplomatik
Pada waktu-waktu tertentu, ketegangan politik atau penurunan intensitas penjagaan perbatasan oleh otoritas lokal dapat memicu gelombang besar migran yang mencoba menyeberang secara bersamaan lewat jalur laut.
Sejak 30 Juli, sekitar 50.000 hingga 60.000 migran dilaporkan berusaha memasuki Ceuta dengan menerobos pagar perbatasan atau menyeberangi laut menggunakan perahu kecil maupun berenang.
Otoritas di Spanyol mengatakan bahwa sebagian besar migran merupakan warga Maroko, sementara lainnya berasal dari sejumlah negara di Afrika dan Aljazair.
Lebih dari 1.000 orang dilaporkan mengalami luka-luka dan membutuhkan perawatan medis akibat insiden tersebut.
Pemerintah Spanyol menyatakan sekitar 48.000 migran telah kembali ke Maroko secara sukarela dalam dua hari setelah gelombang penyeberangan terjadi.
Merespons hal itu aparat memperketat pengamanan di perbatasan, termasuk memasang penghalang terapung di perairan Ceuta untuk mencegah penyeberangan ilegal.
Peristiwa itu memicu kembali perdebatan mengenai kebijakan migrasi di Eropa sekaligus mendorong negara-negara Uni Eropa memperkuat pengawasan di perbatasan eksternal mereka. (ton)



















