TOPMEDIA, SURABAYA — Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Kebun Binatang Surabaya (KBS) memberikan klarifikasi tegas terkait beredarnya isu dan unggahan media sosial yang memperlihatkan kondisi satwa kusam, kurus, dan kurang terawat.
Manajemen memastikan seluruh satwa penghuni KBS saat ini berada dalam kondisi sehat, terawat, dan mendapatkan penanganan sesuai standar animal welfare.
Direktur Operasional dan Umum Perumda KBS, Nurika Widyasanti, menegaskan bahwa konten visual yang ramai diperbincangkan netizen bukanlah gambaran kondisi terkini di lapangan.
“Jadi itu adalah gambar yang diunggah kembali dan bukan kondisi satwa kami saat ini,” tutur Nurika, Selasa (28/7/2026).
Ia menambahkan bahwa Perumda KBS selalu memprioritaskan kesejahteraan satwa melalui perawatan berkelanjutan, pemenuhan gizi yang terukur, hingga pengayaan lingkungan.
“Kondisi satwa di KBS sampai dengan hari ini alhamdulillah dalam kondisi baik dan sehat. Kami selalu mengupayakan pemeliharaan maupun peningkatan kualitas secara berprogres dan berkelanjutan,” lanjutnya.
Menanggapi kabar miring mengenai kematian satwa, Nurika menjelaskan bahwa angka mortalitas di KBS masih berada dalam batas kewajaran.
Kematian yang terjadi merupakan bagian dari siklus alami kehidupan satwa seperti faktor usia dan bukan disebabkan oleh kelalaian pihak pengelola.
Untuk memastikan kondisi fisik dan psikologis satwa tetap terjaga, Nurika mengatakan KBS menerapkan pola pemeliharaan yang ketat. Yaitu pemberian pakan terjadwal yang dilakukan dua kali sehari sesuai jenis dan karakter spesifik satwa.
Selain itu membangun ikatan emosional untuk menjaga kedekatan antara keeper dan satwa agar setiap perubahan perilaku dapat terdeteksi secara dini.
Senada dengan Nurika, Kepala Departemen Kesehatan Hewan Perumda KBS, drh. Rahmat Suharta, memastikan pemantauan kesehatan dilakukan setiap hari tanpa henti. Jika ditemukan indikasi penurunan kondisi fisik, tim medis akan langsung memberikan penanganan intensif.
“Jadi untuk satwa-satwa di KBS ini sudah pasti dalam kondisi baik, tidak ada kekurangan makan,” kata Rahmat.
Rahmat juga meluruskan persepsi keliru masyarakat yang menganggap satwa sehat harus bertubuh sangat gemuk. Menurutnya, proporsi tubuh yang ideal justru penting untuk mencegah gangguan organ dalam.
“Kalau terlalu gemuk itu akan mengganggu kesehatannya, baik dari jantung maupun pernapasannya. Jadi tidak gemuk bukan berarti kurus, tetapi memang kondisinya normal,” jelasnya.
Ia pun menyampaikan langkah preventif kesehatan satwa di KBS. Yakni dengan penyusunan nutrisi spesifik untuk formulasi pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi masing-masing spesies, vaksinasi rutin yang dilaksanakan setahun sekali untuk membangun kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit, dan pemeriksaan laboratorium berkala dengan uji sampel feses secara rutin untuk mencegah risiko infeksi parasit dan cacingan. (*)



















