TOPMEDIA – Pada April 2022 Elon Musk membeli Twitter, kemudian ia mengubah namanya menjadi X pada Juli 2023.
Kabar burung dari pembelian dan pergantian nama itu karena reaksi kecewanya melihat anaknya menjadi transgender.
Musk mengakuisisi Twitter dikaitkan dengan transisi anaknya yang kini bernama Vivian Wilson telah menjadi subjek spekulasi selama bertahun-tahun, hal itu juga diperkuat dan didukung oleh pesan teks yang bocor dari berkas pengadilan Delaware.
Dalam teks menyebutkan keterkaitan pembelian dengan penangguhan akun transfobia, dan oleh laporan biografernya sendiri bahwa sentimen anti-woke dirinya sebagian dipicu oleh transisi Wilson.
Dilansir dari Erin in the Morning, Rabu (3/6/2026), Musk bahkan tidak pernah mengkonfirmasinya dengan kata-katanya sendiri. Kali ini, dia menjawab dengan satu kata, “Benar”.
“Kita tidak boleh lupa bahwa jika bukan karena Vivian, Elon Musk tidak akan pernah terlibat, tidak akan pernah membeli Twitter, Kamala Harris akan menjadi Presiden dan sayap kiri akan memiliki kendali instrumental total atas pembangunan Skynet,” demikian bunyi unggahan pengguna Twitter Syd Steyerhart, yang menanggapi foto Vivian dan berita tentang kampanyenya untuk merek pakaian dalam Rihanna.
“Benar,” jawab Musk
Tak berhenti disitu, Musk menegaskan kembali dengan sebuat cuitan. Milyuner itu menulis bahwa Vivian “dibunuh oleh virus pikiran woke, sekarang virus itu akan mati.”
Hal ini menjadi bukti bahwa bahwa pembelian Twitter oleh Musk sangat dipengaruhi oleh kaum transgender telah terkumpul selama bertahun-tahun.
Sementara itu, pada Maret 2022, Twitter menangguhkan Babylon Bee, sebuah akun satir sayap kanan, karena memposting judul berita yang menyebut Asisten Menteri Kesehatan AS Laksamana Rachel Levine (seorang perempuan transgender) sebagai ‘Man of the Year’.
Seth Dillon, CEO Babylon Bee juga mengkonfirmasi bahwa Musk meneleponnya secara langsung untuk memverifikasi penangguhan tersebut.
Bahkan, Musk kemudian merenung dalam panggilan bahwa dia mungkin perlu membeli Twitter.
“Bisakah kamu membeli Twitter lalu menghapusnya, tolong!? Amerika menjadi GILA. Babylon Bee ditangguhkan itu gila,” ujarnya.
“Atau bisakah Anda membeli Twitter dan menjadikannya platform yang benar-benar mendukung kebebasan berbicara? Jujur saja, saya pikir media sosial adalah momok kehidupan modern… Tetapi sangat mudah untuk dieksploitasi dan digunakan oleh kaum radikal untuk rekayasa sosial dalam skala besar. Dan hal ini menginfeksi dunia. Tolong lakukan sesuatu untuk melawan paham ‘woke’,” imbuhnya. Riley pun mengaku akan melakukan apa saja untuk membantu.
“Mungkin membelinya dan mengubahnya agar benar-benar mendukung kebebasan berbicara,” balas Musk.
Beberapa Minggu kemudian Musk mengajukan tawaran senilai USD 44 miliar (sekitar Rp683 triliun) untuk membeli perusahaan itu sepenuhnya. (*)



















