Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Krisis LPG Mengintai, Negara Besar Mulai Berebut Pasokan

×

Krisis LPG Mengintai, Negara Besar Mulai Berebut Pasokan

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Sejumlah negara di dunia ternyata menghadapi situasi serupa dengan Indonesia dalam hal penggunaan LPG untuk kebutuhan memasak. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar ini menjadi persoalan, terutama karena produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi permintaan, sehingga harus mengandalkan impor.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2023 mencatat India sebagai pengguna LPG rumah tangga terbesar dengan konsumsi mencapai 26,21 juta metrik ton. Posisi berikutnya ditempati China dengan 24,37 juta metrik ton, disusul Rusia sebesar 11,92 juta metrik ton. Indonesia berada di urutan keempat dengan konsumsi 7,83 juta metrik ton.

HALAL BERKAH

Di bawah Indonesia terdapat Brasil dengan 5,72 juta metrik ton, Meksiko 5,38 juta metrik ton, Amerika Serikat 4,6 juta metrik ton, dan Jepang sebesar 3,35 juta metrik ton.

Baca Juga:  Tak Patuhi PP Tunas, Kemkomdigi Beri Sanksi ke Google dan Ancam Stop YouTube

Sementara itu, data Bank Dunia menunjukkan bahwa China, India, Jepang, Indonesia, dan Meksiko termasuk negara yang sangat bergantung pada impor LPG. Hal ini disebabkan produksi domestik yang tidak mencukupi, kecuali Jepang yang memang memiliki keterbatasan sumber energi fosil sejak awal.

Situasi menjadi semakin rumit ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu akibat konflik di kawasan tersebut. Negara-negara yang bergantung pada impor pun harus mencari alternatif sumber energi. Amerika Serikat, sebagai salah satu produsen dan eksportir LPG terbesar, menjadi pilihan utama untuk menutup kekurangan pasokan.

Laporan International Energy Agency (IEA) mengungkapkan bahwa distribusi energi melalui Selat Hormuz mengalami penurunan tajam sejak konflik terjadi. Ekspor LPG turun drastis dari 1,2 juta barel per hari menjadi hanya 280 ribu barel per hari, atau merosot hampir 80 persen. Padahal, sebagian besar pasokan LPG ke Asia berasal dari kawasan Timur Tengah dan melewati jalur tersebut.

Baca Juga:  OJK Dukung Transformasi PNM Jadi Bank UMKM

Sebelum konflik, Timur Tengah dan Amerika Serikat merupakan dua pemasok utama LPG ke Asia. Sekitar 48 persen impor LPG Asia berasal dari Timur Tengah, sementara 39 persen lainnya dari Amerika Serikat.

Dampak dari gangguan pasokan ini mulai terasa di beberapa negara. Di India, misalnya, sempat terjadi kelangkaan LPG yang membuat masyarakat harus mengantre panjang, bahkan membeli dari penjual tidak resmi dengan harga lebih tinggi.

Namun, pemerintah India memastikan bahwa distribusi kini sudah kembali normal. Dalam pernyataannya, Kementerian Migas India mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying terhadap bahan bakar seperti bensin, solar, maupun LPG.

Selama ini, India sangat bergantung pada pasokan LPG dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Qatar. Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, India kini mulai memperluas sumber impor dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Norwegia, Kanada, Aljazair, hingga Rusia.

Baca Juga:  Ekspor IKM Surabaya Tembus USD 2,7 Juta, Lampaui Target dan Bidik Pasar Enam Negara

Selain itu, pemerintah India juga berupaya mengurangi ketergantungan pada LPG dengan mendorong penggunaan gas pipa sebagai alternatif energi rumah tangga.

Berbeda dengan India, Jepang terlihat lebih siap menghadapi situasi ini. Negara tersebut telah mengurangi ketergantungan pada pasokan Timur Tengah hingga hanya sekitar 10 persen dari total impor. Jepang juga memperkuat cadangan energi dengan menjaga stok LPG yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sekitar 50 hari. (*)

TEMANISHA.COM