Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Ternyata Ini Biang Kerok Kenaikan Harga Minyak Goreng Premium

×

Ternyata Ini Biang Kerok Kenaikan Harga Minyak Goreng Premium

Sebarkan artikel ini
Belakangan ini harga minyak goreng premium menlonjak. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan bahwa kenaikan harga minyak goreng sawit kemasan premium hingga mendekati Rp 22.000 per liter bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan minyak, melainkan tingginya biaya kemasan plastik.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut ketersediaan minyak goreng nasional masih aman, namun distribusi dan harga kemasan menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga.

HALAL BERKAH

Budi menjelaskan bahwa gangguan pasokan bahan baku plastik berupa nafta dari Timur Tengah berdampak pada biaya produksi kemasan.

“Kalau minyak goreng premium itu terutama memang di daerah seperti Papua karena distribusinya. Stok barang ada, tidak ada masalah. Memang salah satu imbas kenaikan itu karena harga plastik,” ujarnya seusai konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Baca Juga:  Dorong UMKM Naik Kelas, 5.250 Pelaku Usaha Dapat Pendampingan Sepanjang 2025

Ia menambahkan bahwa persoalan di sektor hulu, termasuk bahan baku plastik, dapat berdampak luas pada berbagai produk turunan.

“Kita kembali ke hulu kita selesaikan, karena dari hulu nanti akhirnya dampaknya ke produk yang lain,” jelasnya.

Kemendag memastikan komunikasi dengan produsen berjalan baik dan produksi tetap normal. Dukungan impor bahan baku plastik terus diupayakan agar pasokan tercukupi.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag, harga minyak goreng kemasan premium mencapai Rp21.796 per liter pada Selasa (21/4/2026), naik 0,19% dibandingkan sehari sebelumnya. Minyak goreng curah juga naik tipis menjadi Rp19.473 per liter, sementara Minyakita justru turun 0,24% menjadi Rp15.942 per liter.

Baca Juga:  Harga Plastik Melonjak, Industri Nasional Tertekan Ketergantungan Impor

“Harapan kami, produksi plastik yang normal jangan sampai distribusinya tetap mahal. Karena kalau produksi sudah normal, distributor juga harus menyesuaikan,” imbuh Budi.

Kemendag menegaskan tidak akan menaikkan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng, termasuk Minyakita.

Budi menekankan bahwa stabilisasi harga tidak hanya bergantung pada komoditas minyak sawit, tetapi juga pada kelancaran industri pendukung seperti plastik.

“Ya secepatnya karena kita kan tidak mesti ngomongin minyaknya saja. Kebanyakan faktornya dari plastik. Nah ini yang plastik juga harus diselesaikan,” tegasnya. (*)

TEMANISHA.COM