Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Mendung dan Gedung Tutupi Blood Moon, Mahasiswa Ilmu Falak UINSA Lakukan Pendataan

×

Mendung dan Gedung Tutupi Blood Moon, Mahasiswa Ilmu Falak UINSA Lakukan Pendataan

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Antusiasme civitas akademika Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya untuk menyaksikan fenomena alam langka, Gerhana Bulan Total (GBT), harus berbenturan dengan realitas cuaca Kota Pahlawan.

Selasa malam (3/3), fenomena yang kerap dijuluki Blood Moon itu gagal tertangkap mata telanjang maupun lensa teleskop akibat kepungan mendung tebal dan blokade bangunan tinggi.

HALAL BERKAH

Sejak pukul 18.00 WIB, tim dari Himpunan Mahasiswa (Hima) Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UINSA sebenarnya telah bersiaga.

Perangkat canggih mulai dari teleskop hingga teropong binokular sudah diarahkan ke langit timur. Namun, hingga puncak gerhana berlalu sekitar pukul 20.00 WIB, sang rembulan tetap bersembunyi di balik awan kelabu.

Baca Juga:  Lagi, Dunia Hiburan Berduka, Legenda WWE Hulk Hogan Tutup Usia

“Kondisi cuaca memang menjadi faktor utama. Sejak sore mendung sudah menggelayut. Selain itu, lokasi pengamatan kami juga terhalang oleh gedung-gedung di sekitar kampus,” keluh Wakil Ketua Hima Ilmu Falak FSH UINSA, Aulia Paramitha.

Meski visual bulan yang memerah gagal terdokumentasi dengan sempurna di Surabaya, pengamatan ini bukan berarti sia-sia.

Bagi mahasiswa Ilmu Falak, momen tiga tahunan ini adalah laboratorium hidup. Mereka tetap melakukan pencatatan data berdasarkan parameter astronomi yang tersedia.

Aulia menjelaskan bahwa Gerhana Bulan Total memiliki karakteristik unik di mana bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan umbra bumi.

Meski tertutup bayangan hitam, sisa pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi membuat bulan tampak kemerahan.

Baca Juga:  BPOM Temukan 23 Kosmetik Berbahaya, Kandungannya Bisa Picu Kanker hingga Rusak Organ

“Data yang kami kumpulkan tetap berharga. Kami mencatat perkembangan fasenya untuk penelitian mengenai tingkat kecerahan bulan (luminosity) saat gerhana. Data ini nantinya akan diolah dan dibagikan kepada rekan-rekan astronomi lainnya,” paparnya.

Bagi warga Surabaya yang kecewa karena gagal melihat Blood Moon kali ini, kalender astronomi 2026 sebenarnya masih menyimpan banyak pertunjukan.

Sepanjang tahun ini, bumi diprediksi akan mengalami empat kali gerhana, yakni dua kali gerhana bulan dan dua kali gerhana matahari.

Indonesia, yang berada di wilayah Asia Tenggara, merupakan salah satu titik pengamatan terbaik di dunia selain Australia dan Asia Timur.

“Fenomena ini sejatinya bisa dilihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus jika cuaca cerah. Ini adalah sarana edukasi penting agar masyarakat paham proses alamiah benda langit kita,” pungkas Aulia. (*)

TEMANISHA.COM