Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Waspadai Inflasi Akibat Lonjakan Harga Minyak, Ini Strategi BI

×

Waspadai Inflasi Akibat Lonjakan Harga Minyak, Ini Strategi BI

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Potensi tekanan inflasi dalam negeri menyusul lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel menjadi perhatian Bank Indonesia (BI).

Kenaikan harga minyak diperkirakan akan berdampak pada biaya transportasi, produksi, hingga harga pangan, sehingga berisiko menekan daya beli masyarakat.

HALAL BERKAH

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menegaskan bahwa bank sentral terus memantau indikator global yang berpengaruh terhadap perekonomian domestik, termasuk harga komoditas utama.

“Sekarang kita sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak, harga emas, dan nanti juga penting untuk melihat harga pangan. Karena kalau harga minyaknya mengalami peningkatan, tentunya ada dampak biaya transportasi dan lain-lain,” ujar Aida di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Baca Juga:  Viral Cacahan Uang di Bekasi, BI Bakal Telusuri dan Pastikan Pemusnahan Sesuai Prosedur

Risiko Inflasi dan Stabilitas Pasar

Selain harga komoditas, BI juga mencermati kondisi pasar keuangan yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.

Fluktuasi kurs berpotensi meningkatkan harga barang impor dan menekan stabilitas harga dalam negeri.

Aida menambahkan, perlambatan perdagangan global juga menjadi faktor yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan memengaruhi dinamika permintaan serta inflasi.

“Komitmen BI tetap menjaga stabilitas. Kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga inflasi,” jelasnya.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 tercatat naik menjadi 4,76 persen (yoy). Lonjakan ini dipengaruhi oleh low base effect, di mana pada tahun sebelumnya pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang mendorong deflasi.

Baca Juga:  Kredit Perbankan Diproyeksi Melejit, BI Targetkan Pertumbuhan di Atas 8 Persen

Kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatat inflasi sebesar 12,66 persen, melonjak tajam dibanding Februari 2025 yang justru deflasi minus 9,02 persen.

Meski demikian, BI menilai prospek ekonomi domestik 2026 tetap terjaga. Momentum pertumbuhan kuartal I diperkirakan meningkat berkat konsumsi masyarakat pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta belanja pemerintah yang lebih agresif.

“Kalau itu terjadi, konsumsi swasta akan mengalami peningkatan dan ini mengakibatkan permintaan domestik meningkat, termasuk produksi lainnya,” kata Aida.

Strategi dan Proyeksi

BI menekankan pentingnya menjaga permintaan domestik di tengah ketidakpastian global. Penguatan sumber pertumbuhan dari dalam negeri dinilai menjadi modal utama untuk mempertahankan stabilitas ekonomi.

Setelah tumbuh 5,11 persen pada 2025, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9–5,7 persen, dengan inflasi tetap terkendali dalam target 2,5 ± 1 persen. Defisit transaksi berjalan juga diperkirakan stabil pada kisaran 0,9–0,1 persen terhadap PDB.

Baca Juga:  Ekonomi Global Mulai Melambat, IMF Soroti Dampak Tarif dan Inflasi

BI menegaskan komitmen menjaga nilai tukar, inflasi, dan momentum pertumbuhan dengan memanfaatkan konsumsi domestik serta belanja pemerintah.

Dengan strategi ini, BI optimistis perekonomian 2026 tetap terjaga meski ketidakpastian global masih membayangi. (*)

TEMANISHA.COM