TOPMEDIA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengancam stabilitas energi global. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat harga minyak dunia melonjak hingga 10 persen, menyentuh level USD 80 per barel.
Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa gejolak di kawasan tersebut berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia.
“Otomatis akan naik, sama seperti saat perang Ukraina kan naik,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Dampak Konflik Timur Tengah
Konflik terbaru dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan penutupan Selat Hormuz.
Jalur ini merupakan salah satu titik vital distribusi minyak dan gas dunia. Akibatnya, pasokan energi global terganggu dan harga minyak mentah melonjak.
Airlangga menyebutkan bahwa selain sektor energi, perang juga berpotensi mengganggu logistik dan pariwisata dalam negeri.
“Pertama yang terganggu pasti supply minyak, kedua transportasi logistik, dan ketiga tourism akan sangat terganggu,” jelasnya.
Meski harga minyak dunia naik, Airlangga menekankan bahwa pemerintah tidak akan gegabah menaikkan harga BBM. Pemerintah akan memantau durasi konflik sebelum mengambil langkah lanjutan.
Ia menambahkan bahwa Indonesia sudah menyiapkan pasokan alternatif dari luar kawasan Timur Tengah. Pertamina telah menjalin kerja sama dengan perusahaan energi besar asal Amerika Serikat.
“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan supply dari non Middle East, misalnya dengan Chevron dan Exxon,” kata Airlangga.
Selain itu, OPEC+ dikabarkan tengah membahas peningkatan produksi hingga 411.000 barel per hari, lebih besar dari perkiraan awal 137.000 barel per hari. Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan pasokan global. (*)



















