TOPMEDIA – Provinsi Jawa Timur kembali menegaskan posisinya sebagai lumbung jagung nasional. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga organisasi masyarakat seperti Gerakan Pramuka.
“Jawa Timur sudah melewati ketahanan pangan, dan saat ini menuju kedaulatan pangan. Ini berkat kolaborasi semua pihak,” ujar Khofifah dalam panen raya kuartal IV di areal Green Farm Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (28/2).
Data menunjukkan produksi jagung pipilan kering Jawa Timur pada 2025 mencapai 4,8 juta ton, hampir dua kali lipat dibanding Jawa Tengah yang berada di posisi kedua dengan 2,8 juta ton, disusul Sumatera Utara 1,3 juta ton.
Kontribusi Jawa Timur terhadap produksi jagung nasional mendekati 30 persen, artinya hampir sepertiga kebutuhan jagung Indonesia dipasok dari petani Jawa Timur. Khofifah juga mengapresiasi dukungan lintas sektor.
“Saya mengapresiasi dukungan semua pihak mulai Kapolda Jatim, Bupati Banyuwangi, hingga Gerakan Pramuka se-Jatim yang turut menggerakkan penguatan ketahanan pangan di daerah,” katanya.
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto menekankan bahwa peningkatan produksi harus diiringi dengan perbaikan kualitas.
“Ke depan, dukungan pemasaran akan kami perkuat agar berdampak langsung pada kesejahteraan petani,” ujarnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menambahkan bahwa daerahnya selalu mencatat surplus jagung. Pada 2025, produksi jagung mencapai 250.596 ton, naik 19 persen dibanding 2024.
Dengan kebutuhan lokal hanya 69.842 ton, Banyuwangi mencatat surplus lebih dari 180 ribu ton. Selain jagung, produksi beras juga surplus, mencapai 546.923 ton pada 2025, naik 7 persen dari tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah Banyuwangi selalu surplus. Saya bangga atas kerja keras seluruh pihak, mulai dari petani, pemerintah daerah, hingga jajaran kepolisian dan TNI. Semoga panen ini membawa berkah dan semangat baru untuk terus meningkatkan produksi,” kata Ipuk.
Dengan kontribusi hampir sepertiga produksi jagung nasional, Jawa Timur semakin mengukuhkan diri sebagai pusat pangan strategis Indonesia.
Pemerintah menegaskan fokus berikutnya adalah menjaga kualitas dan memperkuat pemasaran agar kesejahteraan petani ikut meningkat. (*)



















