TOPMEDIA – Musim kompetisi BRI Super League rampung pada Sabtu (23/5/2026) lalu. Namun, ada banyak kisah menarik dari penutup musim 2025/2026 di Surabaya.
Persebaya menutup kompetisi dengan happy ending. Bajul Ijo berhasil menggilas Macan Putih Persik Kediri 5-0 (2-0) tanpa balas di Gelora Bung Tomo, Surabaya di pekan ke-34.
Kemenangan itu sekaligus menjadi kemenangan besar Persebaya setelah mengalahkan rival mereka Arema FC.
Bonek, sebutan suporter setia Persebaya, mengadakan aksi apresiasi yang justru menjadi ajang adu argumen antara Bonek dan Manager Persebaya, Alex Tualeka.
Alex Tualeka yang sebelum menjabat manager adalah sebagai Fans Relationship atau humas, penghubung antara suporter dengan Sutos (kantor Persebaya).
Dalam aksi Bonek itu, mereka menghadang bus Persebaya di mixed zone yang mana telah disepakati sebelumnya bahwa aksi tersebut adalah apresiasi pada perjalanan Persebaya semusim penuh dan finis di posisi keempat.
Perwakilan Bonek awalnya mengucap terima kasih serta mengapresiasi perjuangan pemain, managemen, dan official tim.
“Kami mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi perjuangan pemain,” ucap seorang perwakilan di ujung megaphone.
Seiring menyampaikan apresiasi di depan seluruh pemain dan managemen serta ofisial tim, apresiasi tersebut mulai mengarah pada evaluasi dan tuntutan juara.
Alex Tualeka pun kemudian meminta megaphone dan memulai upaya mengembalikan alur apresiasi tanpa tekanan dan tuntutan.
“Kita sepakati ini sebagai apresiasi untuk pemain yang telah berjuang semusim, jadi jangan berikan tekanan, biar mereka kumpul keluarga dengan rasa tenang,” ucap Alex dengan nada keras.
Dalam pernyataan, perwakilan Bonek itu menyebut bahwa managemen telah berjanji sebelum Persebaya berusia 100 tahun sudah menjuarai kompetisi.
“Di banner itu bertuliskan ‘janji adalah utang’ dan utang harus dibayar,” sambung perwakilan Bonek itu.
Kondisi semakin ‘panas’ saat nada bicara pria keturunan Maluku itu meninggi.
“Kalau mau juara harus juara bersama-sama, kalian menangkan tribun, pemain menangkan di lapangan”
“Suporter itu pemain ke-12, harus berdiri mendukung tim, jangan kosongkan tribun di saat kalah, dan penuh saat menang,” sambungnya.
Alex menyampaikan pandangan bahwa dalam menyampaikan tuntutan dan evaluasi harus dalam kesempatan lain dan berbeda, bukan di saat tim sedang euforia kemenangan.
“Kita bangun optimisme bersama, kalah dan menang bersama dan untuk menuju juara di 100 tahun, harus bersama-sama,” tandasnya.
BISMILAH 2027
Ada pemandangan lain di laga Derby Jawa Timur itu. Seluruh manajemen dan ofisial memakai kaos bertuliskan “Bismillah 2027”.
Dari pinggir lapangan dan bench serta lounge room tribun GBT, kaos tersebut menyita perhatian.
Azrul Ananda sekeluarga memakai kaos itu dan beberapa sponsor dan juga mitra terlihat menggunakan kaos yang diyakini sebagai pengharapan Persebaya berjaya pada tahun depan. Seperti diketahui, Persebaya akan berusia seabad atau 100 tahun pada tahun 2027.
Kalimat itu bisa menjadi multi tafsir. Apakah 2027 IPO, juara, atau berakhirnya sponsor-sponsor Persebaya yang sesuai kontrak mereka hingga tahun 2027.
Seperti jawaban Bernardo Tavares di post match press conference saat ditanya makna dan maksud tulisan di kaos itu. “Kalau itu tanya managemen,” ucap Tavares. (*)



















