TOPMEDIA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur melaporkan inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Maret 2026 mencapai 3,79 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,50.
Angka ini menunjukkan tekanan harga masih terjadi di berbagai kelompok pengeluaran, terutama sektor energi, pangan, dan komoditas nonmigas.
Plt Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, menyebutkan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep sebesar 5,31 persen dengan IHK 116,47.
Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Gresik sebesar 3,16 persen dengan IHK 109,72.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 16,31 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 10,43 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut menyumbang inflasi sebesar 3,75 persen. Sementara itu, sektor pendidikan naik 1,88 persen, kesehatan 1,69 persen, transportasi 1,14 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,34 persen.
Menariknya, hanya kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami penurunan indeks sebesar 0,23 persen.
Herum menjelaskan sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan, di antaranya emas perhiasan, tarif listrik, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, serta rokok jenis SKM dan SKT.
“Pergerakan harga ini perlu terus diwaspadai, terutama menjelang periode dengan permintaan tinggi agar inflasi tetap stabil,” tegasnya.
Untuk inflasi bulanan (month to month/mtm) pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,39 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) mencapai 1,13 persen.
Komoditas pangan masih mendominasi penyumbang kenaikan harga bulanan, seperti daging ayam ras, daging sapi, telur ayam ras, beras, cabai merah, cabai rawit, serta ikan bandeng dan mujair.
Selain itu, BBM, minyak goreng, tomat, udang basah, serta buah-buahan seperti anggur dan jeruk juga turut berkontribusi.
Adapun komoditas yang menahan laju inflasi bulanan adalah angkutan udara dan emas perhiasan. (*)



















