Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
INTERNATIONAL

Harga BBM Melambung, Resto Cepat Saji AS Keluhkan Sepinya Pengunjung

×

Harga BBM Melambung, Resto Cepat Saji AS Keluhkan Sepinya Pengunjung

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi restoran cepat saji di AS. (Foto: istimewa)
toplegal

TOPMEDIA, WASHINGTON – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini merembet ke sektor konsumsi domestik Negeri Paman Sam.

Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir dilaporkan mulai memukul angka penjualan berbagai jaringan restoran cepat saji raksasa.

HALAL BERKAH

Berdasarkan data terbaru, rata-rata harga bensin nasional di AS telah menembus angka US$ 4,50 per galon.

Kenaikan tajam ini memaksa warga AS, khususnya kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, untuk memprioritaskan pengeluaran mereka dan memangkas anggaran hiburan serta makan di luar.

Jaringan restoran Applebee’s menjadi salah satu yang paling vokal menyuarakan penurunan trafik pelanggan. CEO Dine Brands (induk perusahaan Applebee’s), John Peyton, mengungkapkan bahwa terdapat perlambatan penjualan yang signifikan sejak Maret 2026.

Baca Juga:  Trump Lontarkan Pernyataan Tak Pantas Untuk Timnas Iran di Piala Dunia 2026

“Bulan Maret dan April jauh lebih lesu dibandingkan awal tahun. Konsumen yang berorientasi pada nilai (value-oriented) lebih memilih tinggal di rumah atau mencari alternatif makan yang lebih murah,” ujar Peyton melansir CNBC.

Peyton menambahkan bahwa ambang batas psikologis konsumen mereka berada di angka US$ 3,50 per galon.

Begitu harga bensin melampaui titik tersebut, perilaku konsumen langsung berubah drastis.

Sebagai langkah darurat untuk memikat kembali pelanggan, Applebee’s mempercepat peluncuran promo “All You Can Eat” seharga US$ 15,99 yang mencakup menu andalan seperti udang, sayap ayam tanpa tulang, hingga iga.

Kondisi serupa dialami oleh Chipotle. Restoran spesialis menu Meksiko ini sempat mencatatkan penurunan tren penjualan tepat saat konflik dengan Iran memanas di bulan Maret.

Baca Juga:  Zohran Mamdani Cetak Sejarah di New York: Bentuk Tim Transisi Seluruhnya Perempuan, Emansipasi di Balai Kota

Meski demikian, CFO Chipotle, Adam Rymer, menyatakan bahwa situasi saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Di sisi lain, CEO McDonald’s, Chris Kempczinski, menyoroti bahwa dampak inflasi bensin ini tidak merata.

Menurutnya, konsumen berpenghasilan rendah adalah pihak yang paling tercekik karena harus berbagi anggaran antara biaya sewa rumah, belanja pokok, dan transportasi.

“Harga bensin dan inflasi yang menyertainya berdampak tidak proporsional pada konsumen berpenghasilan rendah,” jelas Kempczinski.

Meski diterpa isu daya beli, McDonald’s masih mampu mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 3,7% pada kuartal pertama tahun ini.

Keberhasilan tersebut didorong oleh strategi “dua kaki”, yakni promosi menu murah bagi konsumen hemat dan paket premium untuk pelanggan berpendapatan tinggi.

Baca Juga:  'Reuni' di Tengah Duka: Donald Trump dan Elon Musk Akhirnya Berjabat Tangan, Sinyal Rekonsiliasi Setelah Perang Kata-kata Sengit

Tren penurunan ini diperkuat oleh data survei dari Numerator terhadap para pengemudi di AS. Hasilnya cukup mengejutkan dimana 43% responden mengaku telah mengurangi frekuensi makan di luar maupun membeli makanan siap saji sejak harga bensin melonjak.

Kini, industri kuliner di Amerika Serikat tengah bersiap menghadapi ketidakpastian ekonomi yang lebih panjang. Jika tensi di Timur Tengah tidak segera mereda, strategi harga murah dan promo besar-besaran diprediksi akan menjadi senjata utama bagi para pelaku usaha untuk bertahan hidup di tengah ancaman lesunya daya beli. (*)

TEMANISHA.COM