TOPMEDIA, JAKARTA — Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai berdampak nyata ke kantong konsumen di Indonesia. Kenaikan drastis harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per 18 April 2026 menjadi sinyal kuat bahwa ketergantungan pada energi fosil kian berisiko.
Di sisi lain, fenomena ini diprediksi menjadi katalisator bagi kelompok menengah atas untuk melirik kendaraan listrik (electric vehicle/EV), meski jalan menuju elektrifikasi bagi kelas menengah masih terjal.
Data terbaru menunjukkan lonjakan harga yang signifikan pada lini produk Pertamina. Pertamax Turbo, misalnya, kini dibanderol Rp19.400 per liter, melonjak drastis dari harga awal April yang hanya Rp13.100.
Begitu pula dengan produk diesel nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex yang kini menembus angka di atas Rp23.000 per liter.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, kepada Antara mengatakan bahwa kebijakan penyesuaian harga BBM ini akan mengubah perilaku konsumsi secara tersegmentasi.
Menurut dia, bagi pemilik kendaraan mewah yang terbiasa menggunakan BBM oktan tinggi, selisih harga tersebut mulai tidak rasional secara ekonomi jangka panjang. Karena itu, kenaikan harga ini dipandang akan menjadi entry point bagi mereka untuk beralih ke kendaraan listrik.
“Untuk kelompok menengah ke atas yang biasa mengonsumsi Pertamax Turbo atau Pertamina Dex, ada kecenderungan memang beralih ke mobil listrik atau EV setelah harga BBM oktan tinggi naik,” kata Bhima di Jakarta, Minggu (19/4/2026).
Efisiensi biaya operasional menjadi magnet utama. Dalam hitungan matematis, biaya pengisian daya listrik jauh lebih murah dibandingkan mengisi tangki dengan BBM yang harganya telah mendekati Rp20.000 per liter.
Namun, ia mengakui optimisme migrasi ke kendaraan listrik itu tidak berlaku merata. Bhima mencatat adanya hambatan besar bagi masyarakat kelas menengah.
Setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat kelompok ini masih wait and see. Yang pertama adalah gangguan rantai pasok dimana ketegangan di Selat Hormuz telah mengganggu logistik global. Tidak hanya komponen BBM semata, namun juga komponen baterai dan biaya produksi EV ikut terkerek naik.
Yang kedua adalah kenaikan harga kendaraan listrik di pasar domestik yang mengalami penyesuaian akibat biaya produksi yang membengkak.
Ketiga adalah adanya penyusutan insentif dimana kebijakan subsidi atau insentif pembelian EV dari pemerintah pada tahun 2026 tercatat berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Setiap kelompok masyarakat memiliki perilaku konsumsi terhadap EV yang berbeda-beda. Kelas menengah masih menimbang-nimbang karena harga unitnya pun ikut naik,” tambah Bhima.
Hingga saat ini, PT Pertamina (Persero) masih berupaya menjaga daya beli masyarakat luas dengan tidak mengubah harga BBM penugasan dan subsidi. Berikut adalah rincian harga BBM per 18 April 2026:
| Jenis BBM | Harga Lama (1 Apr) | Harga Baru (18 Apr) | Status |
| Pertamax Turbo | Rp13.100 | Rp19.400 | Naik |
| Dexlite | Rp14.200 | Rp23.600 | Naik |
| Pertamina Dex | Rp14.500 | Rp23.900 | Naik |
| Pertamax (RON 92) | Rp12.300 | Rp12.300 | Tetap |
| Pertalite | Rp10.000 | Rp10.000 | Tetap (Subsidi) |
| Biosolar | Rp6.800 | Rp6.800 | Tetap (Subsidi) |
Bhima menilai langkah pemerintah mempertahankan harga Pertalite dan Pertamax (RON 92) sebagai “bantalan” agar inflasi tidak meledak secara liar.
Namun, ia mengingatkan bahwa tekanan fiskal terhadap APBN akan semakin berat jika harga minyak dunia terus bertahan di level tinggi akibat ketegangan geopolitik yang belum mereda. (*)



















