Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Di Balik Hubungan Kakak Adik, Ada Peran Besar Pola Asuh Orangtua

×

Di Balik Hubungan Kakak Adik, Ada Peran Besar Pola Asuh Orangtua

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Hubungan antara kakak dan adik sering dianggap akan terbentuk dengan sendirinya seiring waktu. Pertengkaran kecil, rasa cemburu, hingga kedekatan emosional kerap dinilai sebagai hal wajar dalam proses tumbuh bersama. Namun di balik itu semua, peran orangtua ternyata sangat menentukan arah hubungan tersebut sejak dini.

Psikolog Wenny Aidia menjelaskan bahwa hubungan antar saudara tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh bagaimana orangtua memperlakukan anak-anaknya.

HALAL BERKAH

“Hubungan horizontal ini adalah manifestasi dari bagaimana orangtua memperlakukan kita dan saudara kita,” tuturnya dalam kelas daring KALM Counseling bertema Dysfunctional Family: Ketika Keluarga Bukan Tempat Aman dan Nyaman.

Dalam keluarga, dikenal dua jenis relasi, yaitu hubungan vertikal antara orangtua dan anak, serta hubungan horizontal antar saudara kandung. Menurut Wenny, hubungan horizontal ini sangat dipengaruhi oleh pola asuh, terutama dalam pembagian peran, tanggung jawab, dan harapan terhadap masing-masing anak.

Interaksi sehari-hari seperti bermain bersama, berbagi ruang, hingga menghadapi konflik kecil memang membentuk kedekatan kakak dan adik. Namun, cara orangtua merespons situasi tersebut menjadi fondasi utama dalam membentuk pola hubungan mereka.

Baca Juga:  Sering Dianggap Sepele, 5 Kebiasaan Orangtua Ini Bisa Berdampak Buruk pada Anak

Ia menambahkan, sikap ayah dan ibu terhadap masing-masing anak akan memengaruhi cara pandang kakak dan adik terhadap satu sama lain, termasuk dalam memahami peran dan batasan dalam hubungan.

Dalam praktiknya, peran kakak dan adik sering kali terbentuk secara tidak tertulis. Anak yang lebih tua biasanya dituntut untuk lebih sabar dan mengalah, sementara adik kerap dianggap perlu dilindungi atau diutamakan.

Wenny mencontohkan situasi yang sering terjadi di rumah, seperti saat kakak dan adik berebut mainan.

“Misalnya saya sebagai kakak punya adik, terus lagi berantem, berebut mainan, terus orang tua bilang, ‘kakak ngalah dong’,” ujarnya.

Dari kejadian sederhana ini, anak bisa menyerap makna tertentu. Kakak mungkin merasa harus selalu mengalah, sementara adik bisa terbiasa merasa lebih diprioritaskan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu ketidakpuasan bahkan pemberontakan.

“Karena selalu dibilang selalu mengalah, akhirnya kita (kakak) memberontak,” lanjutnya.

Baca Juga:  Surabaya Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia di Tokyo Global Forum on Children 2026

Pesan-pesan seperti ini perlahan membentuk dinamika hubungan saudara. Ada yang menerimanya sebagai kewajiban, namun ada juga yang merasa diperlakukan tidak adil. Dampaknya bisa berupa jarak emosional, rasa iri, hingga konflik yang terbawa hingga dewasa.

Meski begitu, Wenny menekankan bahwa konflik kecil sebenarnya hal yang normal dalam hubungan kakak-adik. Yang lebih penting adalah nilai yang ditanamkan orangtua dalam menyikapi konflik tersebut.

“Pertengkaran ketika bermain itu hal yang wajar sebenarnya, tapi sikap atau value (nilai) yang ditanamkan oleh orangtua kita akan nempel,” jelasnya.

Nilai seperti keadilan, empati, dan penghargaan terhadap perasaan anak menjadi kunci dalam membangun hubungan yang sehat. Sebaliknya, jika orangtua terlihat tidak adil atau tidak konsisten, pola tersebut bisa ditiru oleh anak dalam interaksi mereka.

Orangtua juga memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang mendukung kedekatan antar anak.

“Bagaimana orangtua kita menempatkan si kakak, menempatkan si adik, menempatkan si mungkin ada anak tengah, itu tuh fondasi awal terbentuknya hubungan kita sesama keluarga, antara kakak dan adik,” kata Wenny.

Baca Juga:  Sarwendah Rayakan Imlek Tanpa Warna Merah, Ini Alasannya

Ketika setiap anak merasa dipahami dan diperlakukan dengan adil, hubungan kakak-adik cenderung lebih hangat dan saling mendukung. Sebaliknya, rasa diabaikan bisa memicu kecemburuan dan konflik berkepanjangan.

Menariknya, pola asuh ini sering kali merupakan warisan dari generasi sebelumnya. Banyak orangtua tanpa sadar mengulang cara didikan yang mereka alami dahulu.

“Orangtua kita juga terbawa dari orangtuanya dulu, bahwa yang besar harus ngalah. Padahal yang kecil juga belum paham,” ungkap Wenny.

Karena itu, kesadaran untuk mengubah pola lama menjadi sangat penting. Setiap anak, baik kakak maupun adik, memiliki kebutuhan emosional yang sama dan perlu diperlakukan secara seimbang.

Jika pola yang tidak sehat terus dipertahankan, hubungan kakak-adik bisa tumbuh dalam ketimpangan. Wenny pun mengingatkan pentingnya memutus pola tersebut agar tidak terus berulang di masa depan.

“Jadi, memang banyak yang perlu kita cut circle-nya, biar jangan jadi masalah lagi untuk ke depan-depannya,” pungkasnya. (*)

TEMANISHA.COM