TOPMEDIA, SURABAYA – PT KAI melakukan terobosan baru dengan menggelar uji coba perdana penggunaan bahan bakar Biodiesel B50 pada lokomotif di Surabaya.
Pengujian dilakukan pada lokomotif seri CC206 15 12 yang berlangsung di Depo Lokomotif Sidotopo. Pengujian meliputi proses pencampuran bahan bakar, pengecekan sarana, hingga uji statis.
Uji coba dilanjutkan secara dinamis dengan mengoperasikan Kereta Api (KA) Sembrani pada relasi Surabaya Pasar Turi – Gambir tanggal 30 April dan sebaliknya pada 1 Mei 2026.
Hasil awal menunjukkan performa yang sangat memuaskan. Penggunaan Biodiesel B50 dinilai berjalan dengan baik dan tidak mengganggu kinerja operasional maupun tenaga lokomotif.
Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono, menyampaikan bahwa uji coba ini bertujuan memastikan keamanan dan keandalan teknologi sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan.
“Melalui serangkaian uji coba tahap awal ini kami ingin memastikan bahwa penggunaan Biodiesel B50 aman dan andal. Selain itu, ini juga menjadi kontribusi nyata KAI dalam menekan emisi karbon, menciptakan transportasi yang lebih ramah lingkungan, serta memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Mahendro, Kamis (7/5).
Uji coba ini rencananya akan berlangsung selama enam bulan ke depan. Selama periode tersebut, tim teknis akan melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi mesin dan ketahanan komponen. Evaluasi menyeluruh akan terus dilakukan sebelum diterapkan secara luas demi menjamin keselamatan perjalanan.
Sebelumnya, armada diesel KAI telah menggunakan bahan bakar B40 secara menyeluruh sejak Februari 2025, setelah melewati tahapan uji coba sukses sejak Juli 2024 lalu. Selama penggunaannya, performa mesin tetap terjaga optimal.
Melihat kesuksesan tersebut, KAI optimis peralihan dari B40 ke B50 juga akan berjalan lancar mengingat spesifikasi teknis kedua jenis bahan bakar tersebut dinilai hampir serupa.
“Kami berharap kegiatan yang diinisiasi bersama Kementerian ESDM ini dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat optimal. Tidak hanya untuk pengembangan teknologi perkeretaapian, tetapi juga mendukung transisi energi menuju transportasi yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*)



















