Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Arsyad Benyal: Pernah Bersinar di Galatama, Berpulang dalam Kesederhanaan

×

Arsyad Benyal: Pernah Bersinar di Galatama, Berpulang dalam Kesederhanaan

Sebarkan artikel ini
Arsyad Benyal (duduk dua dari kanan) saat bergabung dengan Arseto Solo bersama para legenda: Ricky Yakobi, Nasrul Koto, Eduard Cong, Lulut Kistono, dan Ali Muharam dengan coach Danurwindo. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA, JAKARTA – Generasi sepak bola hari ini mungkin asing mendengar namanya. Tak ada cuplikan gol di YouTube, tak ada arsip digital yang terus diputar ulang, apalagi media sosial yang mengabadikan setiap langkahnya.

Padahal pada masanya, Arsyad Benyal adalah salah satu penyerang yang disegani di kompetisi paling bergengsi Indonesia kala itu: Galatama.

HALAL BERKAH

Ia bukan hanya pemain penggembira. Arsyad adalah bagian dari era ketika sepak bola Indonesia dipenuhi klub-klub kuat, stadion yang penuh penonton, dan persaingan keras antarbintang dari berbagai daerah.

Nama “Benyal” bahkan lebih lekat daripada marga aslinya, Latuamurry dari Negeri Pelauw. Nama dari ‘Kei’ itu ia pilih hidup di jersey dan di lapangan hijau—menjadi identitas yang dikenal publik sepak bola era 1980–1990-an.

Tumbuh di Era Emas Galatama

Untuk memahami siapa Arsyad Benyal dan kiprahnya di sepak bola, orang harus lebih dulu memahami apa itu Galatama.

Galatama atau Liga Sepak Bola Utama adalah kompetisi semi-profesional paling elit di Indonesia sebelum lahirnya Liga Indonesia.

Pada era 1980-an hingga awal 1990-an, Galatama menjadi panggung utama lahirnya pemain-pemain besar nasional.

Klub-klub seperti Niac Mitra, Krama Yudha Tiga Berlian, Pelita Jaya, Warna Agung, hingga Arseto Solo menjadi simbol kekuatan sepak bola modern Indonesia kala itu.

Berbeda dengan Perserikatan yang berbasis daerah, Galatama dihuni klub-klub profesional dengan dukungan perusahaan besar dan dihuni banyak pemain nasional.

Di tengah kerasnya persaingan itulah Arsyad Benyal muncul dan mengasah bakatnya yang memang mengalir dari ayahnya Nawa Haji Latuamurry yang memang adalah seorang pesepakbola di zamannya

Arsyad kemudian dikenal sebagai penyerang cepat dengan gocekan khas pemain Indonesia timur yang liar, eksplosif, dan sulit ditebak.

Permainannya mengandalkan keberanian duel satu lawan satu serta insting mencetak gol yang tajam.

Baca Juga:  Kuota Impor Daging Sapi 2026 Dipangkas, Pengusaha Swasta Hanya Dapat 30 Ribu Ton

Kariernya membawanya berkelana ke sejumlah klub besar Galatama: PS Arseto Solo, PS Barito Putera, Persiraja Banda Aceh, hingga Medan Jaya di penghujung kariernya. Dan, semua itu bukan klub sembarangan.

Arseto Solo dan Masa Kejayaan Bersama Ricky Yakobi

Salah satu fase penting dalam perjalanan Arsyad adalah ketika memperkuat PS Arseto Solo tahun 1988.

Pada masa itu, Arseto Solo bukan hanya klub kuat, mereka adalah simbol dominasi.

Klub milik pengusaha Bambang Trihatmodjo tersebut dikenal memiliki manajemen modern, fasilitas baik, dan skuad bertabur pemain nasional.

Nama-nama seperti Ricky Yakobi, Eduard Ivakdalam, hingga pemain-pemain top lain pernah menjadi bagian dari kekuatan Arseto Solo. Di skuad itulah Arsyad Benyal mendapat tempat.

Dalam satu foto ikonik tim Arseto Solo 1988, ia tampak berada di deretan depan bersama para pemain yang kemudian menjadi nama besar sepak bola Indonesia.

Arsyad Benyal (berdiri dua dari kanan) saat bergabung bersama PS Barito tahun 1990. (Foto: Istimewa)

Di dada mereka terpampang sponsor SONY—sebuah simbol betapa glamornya Galatama kala itu.

Arsyad bermain satu tim dengan Ricky Yakobi, legenda sepak bola yang dikenal sebagai salah satu penyerang terbaik Indonesia.

Keduanya menjadi duet yang merepotkan pertahanan lawan: Ricky dengan ketenangan dan visi bermainnya, sementara Arsyad hadir lewat pergerakan agresif dan kemampuan menusuk dari berbagai sisi.

Arseto Solo pada era itu bermain dengan tempo cepat dan teknik tinggi. Mereka bukan hanya mengejar kemenangan, tapi juga membangun identitas permainan menyerang. Dalam atmosfer seperti itulah, kualitas Arsyad berkembang.

Meski tak selalu mendapat sorotan sebesar nama-nama nasional lain, keberadaan Arsyad di skuad sebesar Arseto Solo menjadi bukti bahwa kualitasnya berada di level tertinggi sepak bola Indonesia saat itu.

Baca Juga:  Pasuruan United Datangkan Eks Kiper Persija, Shahar Ginanjar Siap Perkuat Lini Pertahanan

Sebagai catatan, pada masa itu Arseto Solo selalu ada di papan atas atau konsisten di tiga besar Galatama.

Puncak kejayaan Arseto Solo terjadi di tahun 1992 dengan berhasil merengkuh gelar juara Galatama serta lolos ke babak delapan besar Liga Champions Asia.

Selain itu, Arseto Solo mampu menjadi kampiun di kejuaraan klub-klub ASEAN tahun 1993.

Menjadi Bagian dari Barito Putera

Tahun 1990, Arsyad memperkuat PS Barito Putera. Dalam foto skuad Barito kala itu, ia berdiri bersama para pemain seperti Slamet Riyanto, Muhammad Yusuf, Ridwan Sirait, hingga Salahuddin.

Barito era awal 1990-an dikenal sebagai tim pekerja keras dengan semangat kolektif yang kuat.

Arsyad menjadi salah satu andalan di lini depan.

Barito pada masa itu mulai membangun reputasi sebagai klub yang mampu bersaing dengan tim-tim mapan Galatama. Dukungan masyarakat Banjar yang fanatik membuat atmosfer pertandingan mereka selalu hidup.

Bersama Barito, Arsyad semakin dikenal sebagai striker yang tak mudah dijaga. Ia kerap muncul dalam daftar pencetak gol dan menjadi ancaman nyata di kotak penalti lawan.

Selain Barito dan Arseto, Arsyad juga pernah memperkuat Persiraja Banda Aceh serta Medan Jaya di akhir era 1990-an—dua klub yang juga memiliki sejarah kuat dalam sepak bola nasional.

Artinya, sepanjang kariernya, Arsyad selalu berada di lingkungan klub-klub papan atas Indonesia.

Ketika Lampu Stadion Mulai Padam

Namun seperti semua atlet, waktu akhirnya membawa Arsyad keluar dari gemerlap lapangan hijau.

Setelah gantung sepatu, ia memilih pulang ke Maluku.

Di sanalah hidupnya berubah. Ia menikahi Nurhalima Tualeka, perempuan sekampung yang kemudian menjadi pendamping hidupnya.

Baca Juga:  Indonesia Sumbang 40% Ekonomi Digital ASEAN

Dari pernikahan itu lahir dua anak: Muhammad Raditya Surya Akbar dan Marsya Rahmatya Cantika Purnama.

Jika dulu ia dikenal publik sebagai striker Galatama, maka di Masohi, ia menjalani hidup yang jauh lebih sunyi dan sederhana.

Tak ada lagi sorak penonton. Tak ada lagi tekanan pertandingan besar.

Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di rumah, mengantar anak sekolah, menjaga keluarga, dan menjalani hidup sebagai kepala rumah tangga biasa.

Sementara sang istri mengabdi sebagai ASN di Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Arsyad mengambil peran menjaga kehangatan rumah.

Bagi keluarga, ia bukan mantan pesepak bola profesional. Ia adalah suami yang setia, ayah yang hadir, dan sosok hangat di tengah keluarga besar.

Pertandingan Terakhir

Namun kehidupan sederhana itu juga diiringi kebiasaan-kebiasaan yang perlahan menggerus kesehatan: merokok, kopi saset, dan begadang malam.

Ironisnya, kebiasaan itu tetap melekat, bahkan setelah ia tak lagi aktif sebagai atlet.

Menjelang akhir 2025, kondisi kesehatannya mulai menurun. Ia beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Kabar itu menyebar pelan di grup WhatsApp keluarga.

Hingga akhirnya, pada Senin siang, 4 Mei 2026, Arsyad Benyal menghembuskan nafas terakhirnya.

Ia pergi dalam kesunyian, jauh dari hiruk-pikuk stadion yang dulu mengenal namanya.

Namun bagi keluarga dan orang-orang yang pernah menyaksikannya bermain, Arsyad bukan sekadar mantan pemain bola.

Ia adalah bagian dari generasi sepak bola Indonesia yang tumbuh di era keras, ketika nama besar dibangun lewat permainan di lapangan, bukan lewat algoritma media sosial.

Hari ini mungkin tak banyak anak muda mengenalnya. Tetapi di ingatan mereka yang hidup di era Galatama, nama Arsyad Benyal tetap punya tempat.

Ia seorang striker dari timur yang pernah malang-melintang di klub-klub besar Indonesia, lalu pulang menjadi lelaki sederhana yang menjaga keluarganya sampai akhir hayat. (*)

TEMANISHA.COM