TOPMEDIA, WASHINGTON – Dunia dikejutkan dengan insiden keamanan yang menyasar pusat kekuasaan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump terpaksa dievakuasi dari jamuan makan malam tahunan White House Correspondents Association di Hotel Washington Hilton, Sabtu (25/4/2026) malam waktu setempat atau Minggu (26/4/2026) WIB, menyusul aksi penembakan yang dilakukan oleh seorang tamu hotel.
Suasana jamuan yang semula hangat mendadak berubah menjadi kepanikan masal sekitar pukul 20.35. Di tengah riuhnya acara, rentetan suara dentuman keras yang diduga berasal dari senjata otomatis terdengar dari arah ruang transisi menuju ballroom utama.
“Kami sedang duduk, lalu terdengar suara ‘dor, dor, dor’. Semua orang langsung berlindung di bawah meja karena tidak tahu apa yang terjadi,” ujar Kellie Meyer, seorang koresponden Gedung Putih yang menjadi saksi mata di lokasi kejadian.
Agen Dinas Rahasia (Secret Service) bergerak cepat dengan protokol pengamanan tingkat tinggi. Sambil meneriakkan instruksi “tiarap, tiarap”, mereka mengawal Presiden Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta sejumlah pejabat tinggi seperti Direktur FBI Kash Patel dan penasihat senior Stephen Miller keluar dari lokasi menuju titik aman.

Biro Investigasi Federal (FBI) dan Departemen Kepolisian Metropolitan Washington DC segera mengamankan area dan menahan seorang tersangka di lokasi kejadian. Tersangka diidentifikasi bernama Cole Tomas Allen (31), seorang warga Torrance, California, yang tercatat sebagai tamu di hotel tersebut.
Kepala Sementara Departemen Kepolisian Metropolitan, Jeffrey Carol, mengungkapkan bahwa Allen membawa sejumlah senjata kecil saat melakukan aksinya. “Ia bersenjata senapan shotgun, sebuah pistol, dan beberapa bilah pisau,” ujar Carol dikutip dari BBC.
Tersangka diduga mencoba menerobos pos pemeriksaan keamanan yang dilengkapi detektor logam sebelum akhirnya dilumpuhkan. Dalam baku tembak singkat tersebut, seorang agen Dinas Rahasia tertembak dari jarak dekat. Beruntung, nyawa sang agen terselamatkan berkat rompi antipeluru yang dikenakannya.
Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Presiden Trump mengonfirmasi kondisi keamanan dirinya dan memuji keberanian petugas. “Saya baru saja berbicara dengan petugas itu (yang tertembak), dan dia dalam kondisi sangat baik. Semangatnya sangat tinggi,” tulis Trump.
Insiden ini memicu pertanyaan besar mengenai prosedur keamanan di Washington D.C. Jamuan makan malam koresponden Gedung Putih selama ini dianggap sebagai salah satu acara paling aman karena dihadiri oleh jajaran tertinggi pemerintahan dan dijaga ketat dengan pemeriksaan berlapis layaknya di bandara.

Jaksa AS untuk Washington, Jeanine Pirro, menyatakan bahwa tersangka kini menghadapi dua dakwaan berat, yakni penggunaan senjata api dalam tindak kejahatan kekerasan serta penyerangan terhadap petugas federal. Sidang pembacaan dakwaan dijadwalkan berlangsung pada Senin (27/4).
Hingga kini, motif pelaku masih dalam penyelidikan mendalam. Namun, polisi memastikan bahwa Allen bertindak seorang diri (lone wolf).
Memori Kelam 1981
Lokasi penembakan di Washington Hilton seolah membangkitkan memori kelam sejarah kepresidenan Amerika Serikat. Hotel yang terletak di Connecticut Avenue ini merupakan tempat yang sama saat Presiden ke-40 AS, Ronald Reagan, ditembak oleh John Hinckley Jr pada 30 Maret 1981.
Kala itu, Reagan terluka parah setelah peluru memantul dari limusin dan mengenai paru-parunya. Meski lokasinya identik, pihak berwenang belum memberikan indikasi apakah pemilihan lokasi oleh tersangka Cole Tomas Allen ini merupakan aksi peniruan sejarah atau sekadar kebetulan.
Wali Kota Washington DC, Muriel Bowser, menyatakan keprihatinannya dan memastikan koordinasi antar-lembaga keamanan akan diperketat. Sementara itu, penyelenggara acara telah memutuskan untuk menjadwalkan ulang jamuan makan malam tersebut dalam 30 hari ke depan.
Bagi Trump, ini merupakan insiden keamanan serius ketiga yang dialaminya, setelah sebelumnya sempat menghadapi ancaman serupa saat berpidato di Butler, Pennsylvania, dan saat bermain golf di Palm Beach, Florida. Insiden ini dipastikan akan mengubah wajah pengamanan pejabat negara di ruang publik Amerika Serikat ke depan. (*)



















