Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Kepala BGN: Program MBG Kunci Putus Rantai Stunting dan Rendahnya IQ Generasi Emas

×

Kepala BGN: Program MBG Kunci Putus Rantai Stunting dan Rendahnya IQ Generasi Emas

Sebarkan artikel ini
Kepala BGN, Dadan Hindayana. (Foto: istimewa)
toplegal

TOPMEDIA, JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Prof. Dadan Hindayana M.Si. memproyeksikan lompatan signifikan pada kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan.

Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah optimistis angka kecerdasan (IQ) rata-rata penduduk Indonesia dapat terkerek naik seiring dengan perbaikan gizi yang masif.

HALAL BERKAH

Dadan mengungkapkan, intervensi gizi ini merupakan langkah strategis untuk memutus rantai masalah kronis, seperti stunting dan rendahnya produktivitas tenaga kerja.

“Kita harapkan dengan program ini stunting-nya bisa dicegah. Rata-rata IQ Indonesia sekarang 78. Dengan hadirnya program ini, 10 hingga 20 tahun ke depan, generasi yang lahir hari ini akan menjadi tenaga kerja produktif yang tidak lagi stunting dan memiliki tinggi badan lebih baik,” kata Dadan dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).

Baca Juga:  Gaspol! Polrestabes Surabaya Kembalikan 1.050 Motor Curian ke Pemiliknya Gratis

Dadan mengungkapkan, Program MBG didesain untuk menyasar dua periode pertumbuhan emas manusia, yakni 1.000 hari pertama kehidupan yang menentukan perkembangan kognitif dan kecerdasan otak, serta fase usia sekolah untuk menunjang pertumbuhan fisik yang optimal agar anak-anak dapat menyerap pelajaran dengan baik.

Latar belakang program ini, menurut Dadan, bermula dari kegelisahan Presiden Prabowo Subianto terhadap ledakan populasi. Dengan pertumbuhan penduduk mencapai 6 orang per menit atau sekitar 3 juta per tahun, Indonesia diprediksi akan dihuni 324 juta jiwa pada 2045 saat peringatan 100 tahun Indonesia Emas.

“Permasalahannya bukan hanya soal jumlah pertumbuhan, tapi dari mana pertumbuhan itu berasal. Fakta di lapangan menunjukkan banyak anak lahir dari orangtua dengan tingkat pendidikan rata-rata lulusan SD,” tutur Dadan.

Baca Juga:  Meski Super Flu Nihil di Surabaya, Wali Kota Eri Cahyadi Minta Warga Tetap Waspada

Rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi akan berdampak langsung pada asupan nutrisi. Data BGN menunjukkan sekitar 60 persen anak di Indonesia tidak memiliki akses terhadap makanan bergizi seimbang, bahkan jarang mengonsumsi susu.

Lewat MBG, pemerintah berupaya menutup celah tersebut. Tak hanya soal kesehatan, program ini diklaim memberikan multiplier effect terhadap ekonomi kerakyatan.

Saat ini, program MBG telah menjangkau seluruh pelosok negeri melalui 27.000 Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG). Dadan menyebut total penyerapan anggaran telah mencapai Rp 60 triliun.

“Anggaran tersebut sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ini bukan sekadar membagikan makanan, tapi menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah, bahkan hingga ke tingkat desa,” pungkasnya. (*)

TEMANISHA.COM