TOPMEDIA – Harga plastik melompat tinggi hingga menekan dunia usaha yang merembet ke sektor ketenagakerjaan. Kondisi geopolitik dunia menjadi pemicu dinamika global yang semakin kompleks, terutama ketegangan Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok energi dunia, termasuk di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Gangguan ini sangat berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dan nafta sebagai bahan baku utama petrokimia global.
Kemudian biaya logistik seperti freight, asuransi, hingga waktu pengiriman juga ikut melonjak, di tengah keterbatasan pasokan bahan baku.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani mengatakan, kondisi ini mendorong kenaikan harga resin plastik yang memberi tekanan signifikan terhadap biaya operasional industri.
“Kondisi ini yang mendorong kenaikan harga resin plastik dan memberikan tekanan langsung dan signifikan terhadap biaya operasional dunia usaha, khususnya sektor yang sangat bergantung pada kemasan seperti makanan dan minuman, FMCG, farmasi, logistik, dan ritel,” kata Shinta, Kamis, (16/4/2026)
Shinta kemudian menambahkan kenaikan harga bahan baku plastik saat ini telah melampaui fluktuasi normal. Harga nafta tercatat naik hampir 45%, sementara resin PET melonjak hingga 60%.
Disamping itu produsen kemasan memangkas kapasitas produksi sekitar 20-30%, yang berdampak pada kenaikan harga kemasan hingga 100-150%.
Menurut Shinta, pelaku usaha kini berada dalam posisi sulit karena harus menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen demi mempertahankan daya beli, sementara biaya produksi terus meningkat.
Shinta melanjutkan, dampak tersebut tidak terjadi secara langsung, melainkan bertahap. Pada fase awal, perusahaan akan melakukan penyesuaian melalui efisiensi operasional, seperti pengurangan lembur, penyesuaian jam kerja, serta menunda ekspansi dan perekrutan tenaga kerja baru.
“Pada tahap awal, dunia usaha akan melakukan langkah penyesuaian melalui efisiensi operasional, seperti penyesuaian jam kerja, pengurangan lembur, serta penundaan ekspansi dan rekrutmen,” tandasnya. (*)



















