Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
EDUTECH

Kadin Jatim Dorong Hasil Riset Kampus Bisa Diimplementasikan ke Industri

×

Kadin Jatim Dorong Hasil Riset Kampus Bisa Diimplementasikan ke Industri

Sebarkan artikel ini
Ketua Kadin Jatim Adik Dwi Putranto. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA, SURABAYA – Selama puluhan tahun, dunia akademik dan industri di Indonesia seringkali berjalan di rel yang berbeda. Sementara laboratorium kampus sibuk menelurkan ribuan publikasi ilmiah, dunia industri justru masih bergantung pada teknologi impor. Fenomena ini menjadi perhatian serius Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur.

Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa kunci utama pemerataan ekonomi wilayah adalah keberanian untuk menarik hasil riset keluar dari laci perpustakaan menuju lini produksi industri.

HALAL BERKAH

Menurutnya, kesenjangan antara dunia riset dan kebutuhan pasar masih menjadi hambatan fundamental bagi daya saing Jawa Timur.

Ia mengatakan, Indonesia, khususnya Jawa Timur, sebenarnya tidak kekurangan talenta peneliti. Namun, Adik menyoroti adanya paradoks bahwa kapasitas riset terus meningkat, namun dampaknya terhadap ekonomi nyata masih minim.

Baca Juga:  5 Keunggulan HP Layar Lebar buat Kamu yang Gila Game

“Banyak hasil riset yang berhenti pada tahap publikasi atau sekadar pemenuhan syarat akademis. Keterlibatan industri dalam proses penelitian masih sangat rendah, sehingga hasil akhirnya sulit diadopsi karena tidak relevan dengan kebutuhan lapangan,” kata Adik di Surabaya, Rabu (15/4).

Tanpa mekanisme hilirisasi yang kuat, inovasi-inovasi canggih hanya akan menjadi artefak digital dalam jurnal ilmiah. Akibatnya, ketimpangan ekonomi terjadi; daerah kuat secara intelektual (output riset), namun lemah dalam menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.

Kadin Jatim menawarkan solusi konkret berupa transformasi paradigma riset. Adik mendorong agar pendekatan lama yang bersifat supply-driven di mana akademisi menentukan sendiri topik risetnya segera ditinggalkan.

Sebagai gantinya, Jawa Timur harus beralih ke demand-driven research. Dalam model ini, industri bukan lagi sekadar penonton di akhir proses, melainkan aktor utama yang menentukan arah penelitian sejak awal.

Baca Juga:  Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Resmi Berlaku, Pelaku Usaha dan Industri Wajib Tahu

“Riset harus berbasis pada kebutuhan nyata industri. Pelaku usaha yang tahu apa masalahnya di lapangan, dan peneliti yang mencarikan solusinya,” tegas Adik.

Dalam ekosistem ini, Kadin Jatim memposisikan diri sebagai agregator sekaligus fasilitator. Peran ini sangat krusial mengingat seringkali ada hambatan bahasa dan birokrasi antara dunia kampus yang teoretis dan dunia bisnis yang pragmatis.

Sebagai jembatan penghubung, Kadin akan melakukan beberapa langkah strategis. Mulai dari pemetaan kebutuhan, pencocokan inovasi (link and match), hingga hilirisasi produk untuk membantu proses komersialisasi riset agar menjadi produk atau solusi yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Langkah maju ini tentu tidak bisa dilakukan sendirian. Kadin Jatim menyerukan kolaborasi yang lebih erat antara akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pemerintah.

Baca Juga:  Pembatasan Gawai di Sekolah Surabaya Terbukti Tingkatkan Fokus dan Interaksi Siswa

Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem inovasi yang mandiri, di mana pertumbuhan ekonomi tidak lagi hanya didorong oleh konsumsi, melainkan oleh nilai tambah dari hasil pemikiran akademisi. (*)

TEMANISHA.COM