Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Ceroboh, Orangtua Bawa Bayi 15 Bulan Mendaki Gunung Ungaran, Berujung Hipotermia

×

Ceroboh, Orangtua Bawa Bayi 15 Bulan Mendaki Gunung Ungaran, Berujung Hipotermia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi bayi yang diajak orangtuanya naik gunung. (Foto: istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Media sosial ramai menginformasikan sebuah tindakan konyol sepasang muda mudi yang membawa balitanya naik gunung. Akibatnya, batita yang diperkirakan berusia 15 bulan itu diduga mengalami hipotermia karena diajak kedua orangtuanya itu mendaki Gunung Ungaran di Kabupaten Semarang.

Kabar itu menyebutkan sang bayi harus diselamatkan oleh anggota SAR di tengah cuaca dingin pegunungan yang baru saja dilanda hujan deras.

HALAL BERKAH

Pengelola Base Camp Perantunan Bandungan memberi klarifikasi untuk meluruskan duduk perkara yang sebenarnya.

Wido, selaku pengelola BC Perantunan, memaparkan bahwa peristiwa itu terjadi pada Sabtu (11/4/2026). Pasangan suami-istri asal Semarang tersebut datang membawa anak mereka yang diperkirakan baru berusia 15 bulan untuk melakukan pendakian tektok (naik-turun dalam sehari).

Baca Juga:  WFH Setiap Jumat, ASN Surabaya Dikejar Target dan Diawasi Ketat

Orang tua balita itu telah diperingatkan petugas sejak awal pendaftaran, Wido pun menegaskan bahwa petugas basecamp sudah memberikan peringatan keras kepada orangtua bayi tersebut.

Hal ini dilakukan karena pendaki suami istri itu membawa anak di bawah umur di tengah kondisi alam yang tidak menentu.

“Kami memperingatkan soal risiko dan lain sebagainya, karena cuaca memang lagi tidak bersahabat,” kata Wido, Senin (13/4/2026).

Namun, sayangnya peringatan tersebut tidak menyurutkan niat kedua orangtua sang bayi. Mereka menyatakan sanggup menanggung risiko dan menjamin keselamatan buah hati mereka.

Didasari pernyataan kesanggupan tersebut, petugas akhirnya mengizinkan mereka naik.

Masalah mulai muncul ketika rombongan kecil ini sampai di Pos 4 Pendakian Jalur Perantunan. Suami istri itu justru cekcok di pos pendakian tersebut.

Baca Juga:  Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sebut Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT Tragedi Kemanusiaan

Sang suami bersikeras ingin melanjutkan pendakian hingga ke puncak, sedangkan sang istri yang menggendong bayinya meminta untuk segera turun kembali ke basecamp.

Di tengah cekcok orangtuanya, sang bayi mulai rewel dan menangis terus-menerus, ditambah saat itu, cuaca di ketinggian memang terasa sangat dingin.

Beruntung, ada anggota SAR yang sedang melakukan kegiatan SMR di sekitar lokasi.

“Kemudian bayi tersebut diajak anggota SAR dan ditenangkan. Karena memang saat itu cuaca dingin, lalu untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, diberi blanket emergency,” jelas Wido.

Wido kemudian meluruskan bahwa penggunaan selimut darurat (blanket emergency) tersebut lebih bersifat preventif, bukan karena bayi sudah dalam kondisi kritis atau terkena hipotermia parah seperti kabar yang beredar.

Baca Juga:  Kereta Api Jadi Pilihan Favorit Turis Asing Jelajahi Jawa selama Libur Nataru

Selanjutnya, setelah bayi ditenangkan dan diberikan kehangatan tambahan, mereka langsung dibawa turun bersama orangtuanya menuju basecamp.

“Setelah itu, langsung diajak turun dan kembali. Bayi dalam keadaan sehat dan baik-baik, semua sehat,” ungkapnya.

Wido kemudian berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pendaki. Ia mengingatkan betapa pentingnya persiapan matang dan kedewasaan dalam mengukur risiko sebelum memutuskan untuk mendaki.

Apalagi jika pendakian itu melibatkan anak kecil yang sangat rentan terhadap cuaca ekstrem. (ton/top)

TEMANISHA.COM