Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
INTERNATIONAL

Dulu Dipuja, Kini Disesali: Pendukung Trump Mulai Kehilangan Kepercayaan

×

Dulu Dipuja, Kini Disesali: Pendukung Trump Mulai Kehilangan Kepercayaan

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Dukungan publik terhadap Donald Trump disebut mulai mengalami penurunan signifikan, bahkan dari sebagian pemilih yang sebelumnya menjadi pendukung setianya. Sejumlah survei terbaru menunjukkan bahwa masa “bulan madu” Trump dengan publik Amerika tampaknya berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan.

Berdasarkan survei terbaru dari University of Massachusetts Amherst yang dirilis pada akhir Maret 2026, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Trump turun ke angka 33 persen, menjadi titik terendah sepanjang masa jabatan keduanya. Angka ini juga menurun cukup tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

HALAL BERKAH

Penurunan tersebut dinilai bukan sekadar perubahan sementara, melainkan sinyal adanya kegelisahan yang mulai muncul di kalangan pemilih yang sebelumnya mengantarkannya kembali ke Gedung Putih pada Pemilu 2024.

Salah satu perubahan paling mencolok terlihat dari munculnya kelompok pemilih yang mulai menyesali pilihan mereka. Data survei menunjukkan, jika pada April 2025 sebanyak 74 persen pemilih Trump merasa sangat yakin dengan pilihan politiknya, kini angka itu turun menjadi sekitar 62 persen.

Baca Juga:  Oleh-oleh Kunker, Prabowo Bawa Kerja Sama Mineral dan Energi dari Korsel

Meski hanya sebagian kecil yang secara terbuka mengatakan akan memilih kandidat lain bila pemilu diulang, jumlah pendukung yang mengaku mulai memiliki keraguan dan perasaan campur aduk terus bertambah. Sekitar 17 persen pemilih Trump pada 2024 kini menyatakan memiliki keberatan atau penyesalan terhadap pilihannya.

Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama merosotnya kepercayaan publik. Janji kampanye Trump untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan menurunkan biaya hidup dinilai belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

Kenaikan harga kebutuhan pokok, inflasi yang masih tinggi, serta lonjakan harga bahan bakar membuat banyak warga Amerika merasa tekanan ekonomi semakin berat. Dalam survei Reuters/Ipsos, tingkat persetujuan terhadap penanganan biaya hidup bahkan hanya berada di kisaran 25 persen.

Baca Juga:  Bukan Lagi Timur Tengah, Pemerintah Alihkan Impor LNG ke AS dan Australia

Kebijakan tarif impor yang sebelumnya menjadi salah satu andalan Trump juga mendapat sorotan. Banyak warga menilai kebijakan tersebut justru ikut mendorong kenaikan harga barang di pasar, sehingga beban rumah tangga semakin terasa.

Selain persoalan ekonomi, kebijakan luar negeri juga ikut memicu ketidakpuasan. Serangan militer terhadap Iran disebut menjadi salah satu isu yang paling mengganggu persepsi publik.

Langkah tersebut dinilai bertentangan dengan janji kampanye Trump yang sebelumnya mengusung slogan untuk menghindari keterlibatan Amerika dalam perang berkepanjangan di luar negeri. Hasil survei Reuters/Ipsos menunjukkan mayoritas warga tidak menyetujui langkah militer tersebut.

Kekhawatiran masyarakat semakin besar karena sebagian publik meragukan janji pemerintah yang menyebut tidak akan ada pengerahan pasukan darat.

Yang paling mengkhawatirkan bagi kubu Partai Republik adalah mulai tergerusnya dukungan dari basis pemilih utama Trump. Kelompok pria, kelas pekerja, pemilih independen, hingga warga Afrika-Amerika disebut mengalami penurunan dukungan cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga:  Sejumlah Organisasi Guru Gelar Demo di Monas Minta Kuota ASN dan PPPK untuk Guru Madrasah

Menurut Direktur UMass Poll, Tatishe Nteta, penurunan di kelompok-kelompok ini menjadi alarm serius menjelang Pemilu Midterm 2026.

“Presiden Trump tampaknya sedang berada di titik luar dengan publik Amerika. Kemampuannya untuk menarik kembali hati masyarakat akan menentukan nasib sisa masa jabatannya,” ujarnya.

Di sisi lain, isu transparansi pemerintahan juga turut membayangi. Masih banyak warga yang merasa pemerintah belum terbuka sepenuhnya terkait berbagai kasus besar yang menjadi perhatian publik, termasuk perkara yang berkaitan dengan Jeffrey Epstein.

Dengan situasi ini, tren penurunan dukungan terhadap Donald Trump dinilai dapat menjadi tantangan besar bagi Partai Republik dalam mempertahankan kekuatan mereka di Kongres pada pemilu mendatang. (*)

TEMANISHA.COM