TOPMEDIA, SURABAYA – Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Wonokromo, Sabtu (4/4). Mengenakan kemeja santai, bos Bulog itu menyusuri lorong pasar untuk mengecek langsung harga dan ketersediaan bahan pokok penting (bapokting).
Hasilnya cukup melegakan. Rizal memastikan bahwa stabilitas pangan nasional saat ini berada dalam kondisi sangat prima. Bahkan, ia membawa kabar baik mengenai cadangan beras pemerintah yang mencatatkan sejarah baru.
Di sela-sela pantauannya, Ahmad Rizal mengungkapkan bahwa stok beras Bulog saat ini menembus angka 4,4 juta ton. Angka ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia berdiri.
“Ini capaian membanggakan. Saat swasembada tahun lalu saja, stok tertinggi di posisi 4,2 juta ton. Sekarang sudah melampaui, dan kami prediksi bisa menyentuh 5 juta ton pada akhir April nanti,” ujar Rizal optimis.
Melimpahnya stok ini menjadi senjata utama pemerintah untuk meredam gejolak harga akibat dinamika ekonomi global.
Selain beras, Bulog juga tengah menggeber penyaluran bantuan pangan kepada 3,3 juta keluarga penerima manfaat, berupa 10 kg beras dan 2 liter minyak goreng.
Dari hasil blusukan di Pasar Wonokromo, tim mencatat mayoritas harga komoditas utama mulai melandai. Seperti telur ayam yang terpantau turun harga menjadi Rp 29.000/kg, daging ayam ras turun dari Rp 34.000 menjadi Rp 31.000/kg dan Minyak Kita yang stabil di kisaran Rp 15.700/liter.
Namun, Rizal memberikan catatan khusus untuk harga daging sapi yang terpantau merangkak naik. Tak mau kecolongan, ia berencana melakukan investigasi hingga ke hulu. “Kami akan cek langsung ke Rumah Potong Hewan (RPH). Kita cari tahu apa kendalanya agar segera bisa diantisipasi,” tegasnya.
Tak hanya soal harga, aspek kesehatan konsumen juga jadi sorotan. Dalam sidak kali ini, Bulog menggandeng dinas terkait untuk melakukan uji sampel mendadak terhadap sayuran dan daging yang dijual pedagang.
Hasilnya? Warga Surabaya bisa bernapas lega. Sampel tomat, cabai rawit, sawi, hingga wortel dinyatakan negatif dari kandungan pestisida berbahaya maupun formalin.
“Selain harga murah, kualitas juga harus sehat. Sejauh ini hasil uji lab lapangan menunjukkan semua aman dikonsumsi,” pungkas mantan Danrem 033/Wira Pratama tersebut. (*)



















