Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
INTERNATIONAL

Kronologi Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Sidang Darurat DK PBB

×

Kronologi Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Sidang Darurat DK PBB

Sebarkan artikel ini
Menteri Luar Negeri Sugiono. (Foto: Instagram/@sugiono_56)
toplegal

TOPMEDIA – Kabar duka menyelimuti Tanah Air. Misi perdamaian dunia kembali memakan korban jiwa dari putra-putra terbaik bangsa. Tidak tanggung-tanggung, tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL gugur dalam kurun waktu 24 jam akibat eskalasi konflik yang kian membara di Lebanon Selatan.

Insiden berdarah ini memicu kemarahan diplomatik. Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menyerukan sidang darurat Dewan Keamanan (DK) PBB.

HALAL BERKAH

Menlu RI Sugiono bergerak cepat menghubungi Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Menlu Lebanon Youssef Raggi untuk menuntut investigasi menyeluruh atas serangan keji yang diduga dilakukan militer biadab Israel tersebut.

“Kami mengutuk keras serangan ini. Keselamatan pasukan penjaga perdamaian adalah harga mati yang tidak bisa ditawar!” tegas Menlu Sugiono dalam akun medsos resminya, Selasa (31/3).

Gugurnya personel TNI di medan konflik sebagai pasukan resmi penjaga perdamaian mandat dari PBB ini memicu gelombang solidaritas global.

Tak hanya Indonesia dan Lebanon, Prancis pun ikut meradang. Menlu Prancis Jean-Noel Barrot mendesak digelar rapat darurat DK PBB dan menyebut serangan tentara Israel di wilayah itu sebagai bentuk intimidasi yang tidak bisa diterima.

Baca Juga:  Viral Kisah Poligami di Malaysia: Keikhlasan Istri Izinkan Suami Nikahi Sabahatnya

Sejumlah pemimpin Eropa lain juga turut bersuara lantang. PM Spanyol Pedro Sanchez menyebut insiden ini telah “melampaui batas” dan mendesak Israel menghentikan permusuhan.

PM Irlandia Michael Martin mengecam keras eskalasi kekerasan yang menyasar penjaga perdamaian. Menlu Belgia Maxime Prevot mengingatkan bahwa menyerang pasukan PBB adalah pelanggaran hukum internasional dan masuk kategori kejahatan perang.

Kronologi Serangan Bertubi-tubi

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah menjelaskan kronologi gugurnya tiga prajurit TNI sebagai bagian dari pasukan UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) PBB.

Tragedi pertama terjadi pada Minggu malam (29/3). Sebuah peluru artileri menghantam pangkalan militer UNP 7-1 di Kota Adshit al-Qusyar.

Dalam peristiwa ini, Praka Farizal Rhomadhon gugur di tempat. Sedangkan tiga rekannya, yakni Praka Rico Pramudia (luka berat), serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan (luka ringan). Mereka langsung dievakuasi ke RS St. George, Beirut.

Baca Juga:  Spanyol Diguyur Hujan, Banjir Tutup Ibiza dan Catalonia

Belum usai kabar duka, maut kembali mengintai pada Senin (30/3). Dua prajurit TNI yakni Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur setelah ledakan dahsyat menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat wilayah Bani Haiyyan. Kendaraan yang mereka tumpangi hancur total.

Tidak hanya prajurit yang gugur, dua prajurit TNI lain atas nama Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto juga mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Aulia menjelaskan, kejadian bermula ketika prajurit TNI dari Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam bagian dari East Mobile Reserve (SEMR) mengawal konvoi kendaraan UNIFIL di wilayah Lebanon Selatan, Senin (30/3).

Personel TNI tersebut mengawal kendaraan dari Mako Sektor Timur UNIFIL United Nations Post (UNP) 7-2 menuju Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1.

“Insiden terjadi di tengah eskalasi konflik tinggi, di mana terjadinya ledakan pada kendaraan yang mengakibatkan gugurnya dua prajurit TNI,” terang Aulia.

Baca Juga:  Tak Mau Dikirim ke Iran, Prajurit AS Ramai-ramai Cari Cara Tolak Tugas Perang

Hingga saat ini, Aulia menjelaskan belum mengetaui secara rinci apa penyebab mobil yang dikendarai para prajurit TNI itu meledak.

Dia memastikan TNI akan menunggu hasil investigasi dari UNIFIL untuk mengungkap penyebab terjadinya ledakan tersebut.

“Untuk mengetahui penyebab insiden tersebut UNIFIL saat ini sedang melaksanakan investigasi, TNI juga terus memonitor perkembangan situasi serta menyiapkan langkah-langkah kontijensi dihadapkan pada dinamika di daerah misi Lebanon,” ungkap Aulia.

Untuk jenazah Praka Farizal, ia memastikan saat ini sudah disemayamkan di East Sector Headquarters (HQ). “Kami sedang menyelesaikan administrasi pemulangan ke Indonesia dibantu KBRI Beirut,” ujarnya.

Hingga Januari 2026, Indonesia tercatat sebagai salah satu kontributor pasukan terbesar di UNIFIL dengan 756 personel. Pemerintah kini terus berkoordinasi ketat dengan Markas Besar PBB di New York untuk memastikan keamanan ratusan prajurit lainnya yang masih bertugas di zona merah Lebanon Selatan. (*)

TEMANISHA.COM