Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Tim Rehabilitasi Bikin Data Palsu, Banyak Pengungsi Aceh Masih Tinggal di Tenda Darurat

×

Tim Rehabilitasi Bikin Data Palsu, Banyak Pengungsi Aceh Masih Tinggal di Tenda Darurat

Sebarkan artikel ini
Penyintas banjir Aceh di tenda mereka. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Sejumlah tenda warna orange masih berdiri di sisi kiri-kanan jalanan di Desa Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Minggu (29/3/2026).

Tampak juga di sana aneka perlengkapan rumah tangga terlihat jelas di dalam tenda. Ya, itulah pemandangan yang akan terlihat saat datang ke desa pesisir pantai itu empat bulan pascabanjir di penghujung 2025.

HALAL BERKAH

Saat siang hari umumnya penyintas banjir meninggalkan tenda. Di dalam tenda mereka merasa panas bak dikukus di atas tungku.

Mereka akan duduk ke sejumlah rumah tetangga atau keluarga hingga sore hari setiap harinya.

Salah satu menempati yang tenda itu bernama Ismail (45). Dia baru saja keluar dari tenda pengungsian berwarna orange miliknya. Keringat membasahi baju kaos yang dikenakannya. “Rumah saya hancur semuanya. Tidak tersisa. Tenggelam sudah menjadi laut,” kenangnya.

Baca Juga:  Antisipasi Tragedi SMAN 72 Jakarta, Cak Eri Instruksikan Dispendik Surabaya Perketat Pengawasan Sekolah dari Bullying

Dia pun duduk dibawah pohon kelapa bersama penyintas banjir lainnya. “Kami disuruh meninggalkan tenda 28 Ramadhan lalu. Disuruh masuk ke hunian sementara (Huntara). Masalahnya, Huntara belum selesai, maka, kami tidak mau membongkar tenda,” katanya.

Ismail langsung mengkritik data yang dilansir oleh Satuan Tugas Rehabilitasi Rekontruksi Sumatera yang menyatakan tidak ada lagi pengungsi di tenda dalam Kabupaten Aceh Utara.

“Terus kami ini siapa, bukan pengungsi lagi, bukan di tenda lagi? Tolonglah kasih tahu presiden data sebenarnya,” terangnya.

Saat ini, desa itu memiliki tiga titik hunian sementara. Secara umum bangunan sudah rampung, namun tidak memiliki arus listrik, air bersih, dan tangki toilet.

Baca Juga:  Mau Bepergian ke Jakarta, Berikut Daerah Yang Banjir dan Surut

Di kawasan hunian itu, tidak tampak aktivitas pekerja. Hunian itu sepi. “Sebelum lebaranlah terakhir mereka bekerja, sampai sekarang belum ada bekerja lagi. Entah kapan akan dibagikan,” kata M Tahir, penyintas banjir lainnya.

Lalu bagaimana bahan bantuan? Tahir tersenyum. “Kita tunggu saja kapan datang bantuan itu. Kami di sini nelayan, ya ke laut lagi cari ikan, cari belanja. Bagi yang mau bekerja di hunian sementara juga diberikan pekerjaan,” kata Tahir.

Empat Bulan Pascabencana di daerahnya, Penyintas di Bener Meriah Belum Terima Huntara. Dia pun tak berpikir muluk-muluk soal bantuan itu pada akhirnya. “Kalau ada kita terima, kalau tidak ada, ya sudahlah. Allah maha kaya,” ujarnya.

Baca Juga:  Gawat! Gara-Gara Pinjol Ilegal dan Investasi Bodong Rp 120 Triliun Uang Masyarakat Lenyap

Kini, empat bulan pascabanjir. Desa itu masih porak poranda. Belum terlihat perbaikan yang memadai di sejumlah tempat. Bangunan rubuh dan tenda pengungsian masih terlihat nyata. Menunggu totalitas tangan negara. (*)

TEMANISHA.COM