TOPMEDIA – Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, momen Hari Raya Idul Fitri dimanfaatkan sejumlah pemimpin dunia untuk menyuarakan pesan damai sekaligus refleksi nilai-nilai kemanusiaan.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyerukan penghentian sementara konflik yang melibatkan Iran. Ia berharap adanya jeda operasi militer selama perayaan hari besar keagamaan dapat membuka ruang baru bagi jalur diplomasi. “Saat kawasan ini memasuki musim hari raya keagamaan, saya pikir semua orang harus tenang dan operasi militer harus dihentikan setidaknya selama beberapa hari untuk memberi kesempatan lain bagi negosiasi,” kata Macron menjelang KTT para pemimpin Uni Eropa.
Seruan ini muncul di tengah konflik yang memanas sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan besar, korban sipil, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Awalnya, AS dan Israel menyebut operasi itu sebagai langkah “preemptif” untuk meredam ancaman program nuklir Iran, namun kemudian juga menyinggung keinginan adanya perubahan kekuasaan di Teheran.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pesan yang lebih bernuansa keagamaan kepada umat Muslim yang merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah.
“Saya dan Ibu Negara menyampaikan ucapan selamat terbaik kami kepada setiap warga Amerika yang merayakan Idul Fitri,” kata Trump dalam pernyataan resmi Gedung Putih pada Rabu (18/3).
Ia juga menyampaikan harapan agar perayaan Idul Fitri membawa berkah dan kebahagiaan bagi komunitas Muslim. Menurutnya, hari kemenangan ini bukan hanya penutup Ramadan, tetapi juga momen yang mempererat kebersamaan lintas masyarakat.
Trump menambahkan bahwa Idul Fitri menjadi simbol penting dari kebebasan beragama yang dijunjung tinggi di Amerika Serikat. Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah sendiri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 di sejumlah negara. Namun di Indonesia, terdapat perbedaan penetapan hari raya.
Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Sementara itu, sebagian umat Islam merayakan lebih awal pada Jumat, 20 Maret 2026. Menanggapi perbedaan tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak masyarakat untuk saling menghormati.
“Pada substansinya, mari Idul Fitri ini, baik dalam kesamaan maupun perbedaan, kita jadikan momentum untuk menggali dan mengimplementasikan sumber-sumber pencerahan agama bagi kehidupan kita, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa, bernegara, hingga kehidupan global,” ujarnya.
Di tengah konflik yang belum mereda, pesan damai dan toleransi yang mengemuka saat Idul Fitri menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan dan persatuan tetap relevan, bahkan di saat dunia menghadapi ketegangan geopolitik. (*)
“Hari raya ini juga berfungsi sebagai pengingat akan prinsip dasar Amerika tentang kebebasan beragama, yang diperjuangkan oleh pemerintahan saya setiap hari,” demikian katanya.
“Berdasarkan hisab dan tidak adanya hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026,” ujar Nasaruddin Umar dalam konferensi pers sidang isbat di Jakarta.
Pesan Damai Idul Fitri: Macron Desak Hentikan Perang, Trump Sampaikan Ucapan
Ayunda3 min baca
TOPMEDIA – Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, momen Hari Raya Idul Fitri dimanfaatkan sejumlah pemimpin dunia untuk menyuarakan pesan damai sekaligus refleksi nilai-nilai kemanusiaan.



















