TOPMEDIA – Pemerintah mulai mengkaji penggunaan kompor listrik sebagai bagian dari strategi efisiensi energi nasional dan pengurangan ketergantungan terhadap impor LPG.
Kajian ini dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama sejumlah perguruan tinggi, menyusul arahan langsung dari Presiden untuk mempercepat elektrifikasi sektor rumah tangga.
“Iya, kompor listrik termasuk yang diminta kita kaji. Ini bagian dari strategi efisiensi di tengah krisis energi global,” ujar Mendiktisaintek Brian Yuliarto di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (19/3/2026).
Brian menjelaskan bahwa kajian ini melibatkan perguruan tinggi negeri dan swasta, serta para pakar lintas bidang. Hasil kajian ditargetkan rampung pada April 2026. “Mungkin dalam waktu cepat kita bisa rekomendasikan. April lah,” katanya.
Selain kompor listrik, pemerintah juga mengkaji percepatan penggunaan kendaraan listrik dan penggantian pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan energi baru terbarukan seperti PLTS.
Brian menyebut potensi penghematan dari penggantian PLTD saja bisa mencapai Rp 25 triliun dari sisi konsumsi BBM.
Sementara penggunaan kompor listrik dan motor listrik dinilai bisa memberikan dampak tambahan yang signifikan.
“Belum lagi kalau motor listrik dan kompor listrik ini diganti, itu juga sangat besar,” tegasnya.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tingginya harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasokan energi global.
Pemerintah mendorong percepatan elektrifikasi sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih dan penguatan ketahanan energi nasional.
“Bagaimana strategi implementasi itu bisa dilakukan segera, karena ini krisis juga datangnya segera,” ujar Brian.
Brian menegaskan bahwa elektrifikasi rumah tangga, kendaraan, dan pembangkit listrik akan menjadi pilar utama dalam menghadapi krisis energi global. (*)



















