TOPMEDIA – Penjualan mobil listrik secara global mengalami penurunan signifikan pada Februari 2026. Data konsultan Benchmark Mineral Intelligence (BMI) mencatat penurunan sebesar 11 persen dibanding bulan sebelumnya.
Kondisi ini terjadi setelah berakhirnya berbagai program insentif pemerintah di sejumlah negara, yang sebelumnya mendorong pembelian kendaraan ramah lingkungan.
China, sebagai pasar mobil listrik terbesar di dunia, mencatat penurunan registrasi mobil listrik dan plug-in hybrid hingga 32 persen dibanding tahun lalu.
Angka ini sejalan dengan penurunan penjualan mobil secara keseluruhan sebesar 34 persen pada bulan yang sama, menurut data Asosiasi Produsen Otomotif China.
Pemerintah China sebelumnya telah mengakhiri program tukar tambah mobil dan pembebasan pajak atas pembelian mobil listrik pada akhir 2025.
Pasar Amerika Utara juga mengalami kontraksi tajam. Penjualan mobil listrik turun 35 persen menjadi kurang dari 90 ribu unit, sekaligus mencatat penurunan untuk bulan kelima berturut-turut.
Kondisi ini dipicu oleh berakhirnya skema kredit pajak kendaraan listrik di Amerika Serikat pada September lalu, serta usulan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memangkas standar emisi CO2.
Manajer data BMI, Charles Lester, menegaskan bahwa harga menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan konsumen.
“Konsumen sangat sensitif terhadap harga. Ketika insentif berakhir, daya tarik mobil listrik menurun karena biaya kepemilikan terasa lebih tinggi,” ujarnya.
Secara global, penjualan mobil listrik pada Februari tercatat sebanyak 1,05 juta unit. Angka ini menjadi yang terendah dalam dua tahun terakhir, menandakan perlambatan pasar yang cukup serius.
Penurunan penjualan mobil listrik pada Februari 2026 menunjukkan bahwa keberlanjutan pasar kendaraan ramah lingkungan masih sangat bergantung pada dukungan kebijakan pemerintah.
Tanpa insentif, daya beli masyarakat melemah, sehingga produsen perlu mencari strategi baru untuk menjaga momentum transisi menuju kendaraan rendah emisi. (*)



















