TOPMEDIA– Pekik perlawanan membahana di depan Gedung Negara Grahadi, Senin sore (9/3). Puluhan massa yang tergabung dalam rangkaian International Women’s Day (IWD) Surabaya 2026 menggelar aksi di Jalan Gubernur Suryo. Tak sekadar seremoni, aksi ini menjadi alarm keras bagi penguasa atas rentetan ketidakadilan yang masih mencekik kaum perempuan dan kelompok rentan.
Mengusung tema lokal yang guyub, Ayo Rek! Saling Njogo, Saling Nguatno, aksi ini menjadi muara dari solidaritas berbagai elemen. Mulai dari mahasiswa, buruh, pegiat lingkungan, aktivis LBH, hingga komunitas akar rumput. Mereka bergerak bersama dalam satu barisan longmarch sebelum akhirnya “mengepung” gerbang Grahadi sekitar pukul 15.00 WIB.
Bukan tanpa alasan mereka turun ke jalan. Koordinator lapangan aksi, Syska La Veggie, menegaskan bahwa ada 23 butir tuntutan yang lahir dari pahitnya realitas di lapangan. Salah satu yang paling disorot adalah rapuhnya perlindungan di lingkungan pendidikan.
“Kami mendesak reformasi total Satgas anti-kekerasan seksual di perguruan tinggi. Jangan cuma jadi pajangan. Harus ada langkah nyata mulai dari pencegahan hingga pemulihan korban secara tuntas,” tegas Syska di sela-sela orasi di atas mobil komando.
Tak hanya isu kampus, nasib pekerja domestik pun ikut digugat. Massa menuntut agar pemerintah segera mengesahkan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) yang sudah belasan tahun “tertidur” di meja legislatif. Isu kesetaraan upah bagi pekerja perempuan, terutama mereka yang berusia di atas 40 tahun, juga menjadi poin krusial yang disuarakan.
Di antara riuh poster dan spanduk, massa juga menyuarakan tuntutan yang menyentuh akar budaya. Mereka mengutuk segala bentuk seksisme, termasuk perilaku bercanda yang merendahkan perempuan. Selain itu, mereka menyoroti pola demokrasi yang militeristik yang dianggap seringkali memberangus ruang aman bagi kelompok minoritas dan aktivis.
“Perubahan yang adil hanya bisa terwujud kalau kita bergerak bersama. Harapannya, tuntutan ini tidak dianggap angin lalu. Kami tidak sedang sekadar teriak-teriak, tapi kami membawa keresahan nyata dari banyak kelompok,” tambah Syska.
Aksi IWD Surabaya 2026 ini juga tidak menutup mata pada isu global. Massa menyatakan solidaritas mendalam bagi perempuan yang menjadi korban konflik di Timur Tengah. Bagi mereka, luka perempuan di belahan dunia manapun adalah duka bersama.
Berikut beberapa poin krusial dari 23 tuntutan yang disuarakan di depan Grahadi:
- Perlindungan Pejuang HAM: Mendesak negara menjamin keamanan bagi pembela hak perempuan, anak, lansia, hingga penyandang disabilitas.
- Stop Represifitas: Menghentikan segala bentuk intimidasi dan pembungkaman pendapat, baik di ruang publik maupun jagat digital.
- Ruang Kerja Aman: Implementasi hak pekerja perempuan dan kesetaraan upah tanpa diskriminasi usia.
- Kebebasan Akademik: Menuntut kampus menghentikan tindakan represif terhadap civitas akademika dan pers mahasiswa.
- Lawan Financial Abuse: Mengutuk segala bentuk kekerasan ekonomi yang sering terjadi dalam lingkup rumah tangga. (*)



















