TOPMEDIA – Pemerintah akan membentuk satuan tugas (satgas) transisi energi termasuk konversi motor konvensional ke motor listrik. Hal itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Kata Bahlil, satgas dibentuk untuk percepatan konversi kendaraan bermotor yang jumlah mencapai 120 juta unit menjadi motor listrik. Kebijakan ini disiapkan bertepatan dengan kondisi pasokan minyak dunia yang terancam akibat perang Israel dan AS melawan Iran serta penutupan Selat Hormuz.
“Bapak Presiden membentuk tim Satgas untuk bisa melakukan percepatan ini. Tadi kami diberikan tugas oleh Bapak Presiden (Presiden Prabowo Subianto) kepada saya sebagai Ketua Satgas untuk menjalankan dan menerjemahkan kebijakan ini secara cepat,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Presiden Prabowo menargetkan implementasi program tersebut dapat berjalan maksimal dalam waktu tiga hingga empat tahun, bahkan diharapkan bisa terealisasi lebih cepat.
“Bapak Presiden sangat berkeinginan agar implementasinya dilakukan segera dan insya Allah kita akan melakukannya dalam kurun waktu yang tidak lama. Bapak Presiden tadi menyampaikan bahwa maksimal tiga sampai empat tahun, bahkan kalau bisa lebih cepat lagi,” jelasnya.
Kemudian selain mempercepat konversi motor konvensional, Satgas tersebut juga dibentuk untuk memastikan berbagai program transisi energi dapat segera diimplementasikan.
Percepatan itu termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt. Satgas ini juga bertugas menerjemahkan kebijakan pemerintah secara cepat agar program transisi energi, pengembangan energi terbarukan, dan elektrifikasi kendaraan dapat berjalan efektif.
Kata Bahlil menambahkan, percepatan transisi energi tidak hanya bertujuan mempercepat penggunaan energi bersih, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi anggaran negara.
Ia menjelaskan konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) akan membantu menekan beban subsidi listrik pemerintah.
“Sudah barang tentu orientasinya adalah transisi energi bisa kita lakukan dengan cepat, tetapi juga kita bisa mengurangi subsidi. Dengan mengonversi PLTD berbahan diesel ke PLTS akan terjadi efisiensi terhadap subsidi listrik kita sekaligus mendorong percepatan penggunaan motor dan mobil listrik,” jelas Bahlil. (ton/top)



















