TOPMEDIA – Di tengah sorotan lembaga pemeringkat global terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan keyakinannya bahwa kinerja ekonomi nasional masih solid.
Optimisme ini disampaikan menjelang pertemuan dengan Fitch Ratings, menyusul penilaian terbaru dari Moody’s dan S&P Global Ratings yang menyoroti risiko fiskal dan tata kelola.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Nathan Kacaribu, menegaskan bahwa indikator ekonomi awal tahun menunjukkan arah positif.
Ia menyebut pemerintah tetap disiplin menjaga defisit sambil mendorong pertumbuhan ekonomi menuju 6%.
“Dari data bulan pertama sudah menunjukkan arah yang sangat positif. Ke depan kami akan bisa terus meyakinkan investor dan juga lembaga rating tentang kondisi perekonomian kami yang sangat baik, tumbuh tinggi walaupun defisit kami pertahankan dengan disiplin,” ujar Febrio di kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Febrio menambahkan, strategi jangka pendek pemerintah adalah mengakselerasi belanja tanpa memperlebar defisit, menjaga likuiditas pasar, memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI), serta memperbaiki iklim usaha.
Penilaian Moody’s dan S&P
Sebelum Fitch, dua lembaga pemeringkat internasional telah merilis pandangan terbaru terhadap Indonesia.
Moody’s Ratings menurunkan outlook Indonesia dari “stable” menjadi “negative” pada 5 Februari 2026, meski tetap mempertahankan peringkat di level Baa2 (investment grade).
Penurunan outlook dipicu oleh kekhawatiran terhadap prediktabilitas kebijakan, komunikasi pemerintah yang dinilai kurang efektif, serta risiko fiskal akibat belanja besar-besaran dengan basis penerimaan yang rendah.
“Jika berlanjut, tren ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbangun,” tulis Moody’s dalam laporan resmi, Minggu (8/2/2026).
S&P Global Ratings mempertahankan prospek peringkat utang Indonesia di level stabil, namun memberi peringatan keras terkait pelemahan posisi fiskal.
Analis Sovereign S&P, Rain Yin, menyatakan bahwa penurunan kualitas fiskal dapat menekan peringkat Indonesia jika tidak diimbangi oleh perbaikan indikator kredit lainnya.
“Pelemahan fiskal lebih lanjut dapat memberikan tekanan ke bawah pada peringkat utang Indonesia,” ujarnya kepada Bloomberg, Jumat (6/2/2026).
Fitch dijadwalkan bertemu dengan sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Kemenko Perekonomian, Kementerian Investasi/BKPM, dan Danantara, sebelum bertemu Kemenkeu.
Salah satu sorotan adalah agenda ambisius Danantara, sovereign wealth fund baru Indonesia, yang dinilai Moody’s masih belum menunjukkan arah tata kelola yang jelas.
Meski menghadapi penurunan outlook dari Moody’s dan peringatan dari S&P, pemerintah tetap optimistis bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat untuk mempertahankan peringkat kredit. (*)



















