TOPMEDIA – Rencana impor 105.000 unit mobil pick-up untuk operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menuai penolakan dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Organisasi pengusaha ini menilai kebijakan tersebut berpotensi melemahkan industri otomotif nasional yang sejatinya mampu memenuhi kebutuhan kendaraan niaga dalam negeri.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri, Saleh Husin, menegaskan bahwa kebijakan impor harus diselaraskan dengan visi industrialisasi pemerintah.
“Setelah menerima pandangan dari pelaku industri otomotif dan asosiasi, kami mengimbau Presiden agar membatalkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga. Mengimpor mobil CBU sama saja dengan membunuh industri otomotif yang sedang tumbuh,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).
Menurut Kadin, impor kendaraan dalam bentuk utuh atau completely built up (CBU) tidak memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian domestik.
Sebaliknya, kapasitas produksi nasional yang mencapai ratusan ribu unit per tahun belum dimanfaatkan optimal.
Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk kendaraan pick-up bahkan sudah di atas 40 persen, dengan jaringan layanan purna jual yang luas.
Saleh menambahkan, sinkronisasi antar kementerian sangat penting agar program pembangunan desa tidak justru melemahkan utilisasi pabrik otomotif dalam negeri.
“Pemerintah memiliki ruang untuk merancang skema yang lebih berpihak kepada industri nasional, seperti memprioritaskan kendaraan dengan TKDN tinggi, mendorong perakitan dalam negeri, atau membangun kemitraan manufaktur lokal,” jelasnya.
Di sisi lain, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa Indonesia telah mampu memproduksi kendaraan pick-up secara mandiri.
“Apabila pengadaan kendaraan pick-up 4×2 sebanyak 70.000 unit dipenuhi dari produksi dalam negeri, maka akan memberikan dampak ekonomi ke belakang sekitar Rp 27 triliun,” ungkapnya.
Adapun rencana impor yang digagas PT Agrinas Pangan Nusantara mencakup 35.000 unit mobil pikap 4×4 produksi Mahindra & Mahindra Ltd., 35.000 unit pikap 4×4 dari Tata Motors, serta 35.000 unit truk roda enam dari produsen yang sama. Pengiriman kendaraan direncanakan berlangsung bertahap sepanjang 2026. (*)



















