Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Awali 2026, Industri Pengolahan Nasional Capai IKI Tertinggi Sejak 2022

×

Awali 2026, Industri Pengolahan Nasional Capai IKI Tertinggi Sejak 2022

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi aktivitas industri. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Sektor industri pengolahan nasional mengawali tahun 2026 dengan sinyal positif setelah melewati tantangan sepanjang 2025.

Optimisme pelaku usaha tercermin dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 yang menembus angka 54,12, naik 2,22 poin dibandingkan Desember 2025.

HALAL BERKAH

Angka tersebut sekaligus menjadi capaian tertinggi sejak Kementerian Perindustrian meluncurkan survei IKI pada November 2022.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menyebut pencapaian ini lebih tinggi 1,02 poin dibandingkan Januari 2025.

“Capaian ini menandakan penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap prospek usaha di awal tahun,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (29/1/2026).

Struktur IKI Januari 2026 menunjukkan perbaikan merata di berbagai subsektor. Dari total 23 subsektor industri pengolahan, sebanyak 20 subsektor berada pada fase ekspansi, sementara tiga subsektor lainnya masih mengalami kontraksi.

Baca Juga:  Industri Pengolahan Menjadi Penopang Perekonomian dan Penyedia Lapangan Kerja

Subsektor yang ekspansif menyumbang sekitar 94,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Industri Pengolahan Nonmigas.

“Kami menilai peningkatan IKI terjadi karena pelaku industri mulai mengintensifkan kegiatan produksi untuk merespons peningkatan permintaan menjelang Ramadan, Idulfitri, serta hari raya keagamaan lainnya,” jelas Febri.

Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, serta industri mesin dan perlengkapan.
Menurut Febri, kenaikan ini juga dipengaruhi oleh respon positif pelaku industri terhadap surat Menteri Perindustrian kepada Menteri Keuangan, meski usulan tersebut masih dalam tahap pembahasan.
Sementara itu, tiga subsektor yang masih mengalami kontraksi meliputi industri kulit dan alas kaki, industri kayu dan barang dari kayu, serta industri komputer dan elektronik.
Kontraksi dipengaruhi oleh pelemahan permintaan ekspor, faktor musiman, dan dinamika geopolitik global.
Dari sisi makroekonomi, kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 20–21 Januari 2026 dinilai memberikan sinyal stabilitas bagi dunia usaha.
Kebijakan ini sejalan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta pencapaian sasaran inflasi 2026–2027 sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Meski tekanan inflasi masih menjadi perhatian, aktivitas manufaktur nasional tetap ekspansif. Indeks PMI S&P Global Manufaktur Indonesia pada Desember 2025 tercatat 51,2, menandai ekspansi lima bulan berturut-turut.
Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) pada Triwulan IV 2025 juga meningkat menjadi 51,86 persen dan diproyeksikan terus menguat pada Triwulan I 2026.
Dengan capaian IKI Januari 2026 yang tertinggi sejak survei diluncurkan, pemerintah optimistis sektor industri pengolahan akan terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional. (*)

TEMANISHA.COM