TOPMEDIA – Penampilan Syifa Hadju saat melangsungkan pernikahan dengan El Rumi sukses mencuri perhatian publik. Di momen sakral tersebut, ia tampil begitu berbeda, lebih bersinar, tenang, dan memancarkan pesona yang sulit diabaikan. Wajahnya terlihat segar dengan aura yang seolah keluar dari dalam dirinya, membuat banyak orang terpukau.
Perubahan itu bahkan membuat sebagian orang nyaris tak mengenalinya. Kesan “manglingi” pun langsung melekat kuat pada dirinya hari itu. Ia hadir sebagai sosok pengantin yang tidak hanya anggun secara visual, tetapi juga menghadirkan ketenangan yang terasa begitu dalam.
Di balik penampilan yang memikat tersebut, ternyata ada proses yang tidak banyak diketahui publik. Bukan hanya soal riasan atau busana, Syifa menjalani persiapan yang bersifat batiniah dengan penuh kesungguhan.
Menjelang hari bahagianya, ia memilih menjalani puasa mutih, sebuah tradisi yang dipercaya sebagai cara untuk membersihkan diri sebelum memasuki fase kehidupan baru. Ia mengungkapkan hal itu secara sederhana, “Aku lagi puasa mutih,” ucapnya pelan, menandakan bahwa proses tersebut sangat personal baginya.

Selama menjalani ritual tersebut, Syifa hanya mengonsumsi makanan berwarna putih tanpa tambahan bumbu. Ia menjelaskan dengan rinci, “Nasi putih hambar, tahu putih sama telur putih, nggak pakai garam,” ungkapnya.
Puasa mutih sendiri merupakan tradisi yang sudah lama dikenal dalam budaya Jawa. Secara harfiah, “mutih” berarti memutihkan, yang dalam praktiknya dimaknai sebagai upaya penyucian diri, baik secara fisik maupun spiritual. Umumnya, pola ini dijalani dalam kurun waktu tertentu, mulai dari beberapa hari hingga berminggu-minggu, tergantung kemampuan masing-masing.
Namun, Syifa memilih menjalaninya dalam durasi yang lebih singkat. Ia hanya berpuasa mutih hingga prosesi akad selesai. “Sampai selesai akad doang,” katanya.
Beberapa sumber kesehatan seperti Halodoc menyebut bahwa puasa mutih dipercaya memiliki manfaat seperti membantu proses detoksifikasi dan meningkatkan fokus pikiran. Bahkan, ada pula yang meyakini pola makan ini dapat membuat kulit tampak lebih bersih, yang mungkin menjadi salah satu alasan penampilan Syifa terlihat berbeda.
Meski demikian, manfaat tersebut belum sepenuhnya didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Pola makan terbatas seperti ini tetap perlu dijalani dengan hati-hati. Konsumsi makanan yang minim variasi berisiko tidak memenuhi kebutuhan nutrisi harian, sehingga dapat memicu kelelahan, sakit kepala, hingga penurunan massa otot jika dilakukan terlalu lama.
Karena itu, puasa mutih tidak dianjurkan dijalani dalam jangka panjang, terutama bagi kelompok tertentu seperti ibu hamil atau individu dengan kondisi kesehatan tertentu tanpa pengawasan medis.
Menariknya, di balik kedisiplinannya menjalani ritual tersebut, Syifa mengaku sudah tak sabar menantikan momen setelah puasa berakhir. Ia bahkan membayangkan berbagai makanan yang ingin disantap. “Everything,” tutupnya singkat.
Pengakuan itu menggambarkan betapa menantangnya menjalani pola makan terbatas tersebut. Namun, semua dijalani dengan penuh komitmen demi menyambut hari istimewanya. Tak heran jika penampilan memukau Syifa di hari pernikahan menjadi bukti nyata dari totalitas dan kesungguhan yang ia lakukan. (*)



















