TOPMEDIA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan secara tegas akan menutup permanen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak memenuhi standar. Ia akan melakukannya tanpa melihat pihak yang memiliki atau mengelola dapur tersebut.
Sudaryono menyampaikan pernyataan itu saat merespons evaluasi BGN setelah adanya insiden dugaan keracunan makanan MBG yang menimpa ratusan siswa SMAN 1 Brastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
“Ya, saya enggak peduli itu SPPG-nya misalnya apa, punya siapa, saya enggak lihat. Saya lihat sistem. Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen,” kata Sudaryono di Jakarta, Senin (17/8).
Mantan Ketua Partai Gerindra Jawa Tengah itu mengatakan, tindakan tersebut berlaku bagi seluruh SPPG yang tidak dapat dan mampu memenuhi standar operasional yang ditetapkan BGN. Menurut pejabat kelahiran 1985 ini dapur yang tidak dapat diperbaiki akan ditutup secara permanen.
Lanjutnya, BGN telah menutup sekitar 1.300 SPPG dalam tiga pekan sejak dirinya menjabat sebagai kepala BGN. Perinciannya, sekitar 800 SPPG telah ditutup, kemudian 500 SPPG lainnya menyusul.
BGN pun mengevakuasi prosedur pemeriksaan makanan setelah insiden Berastagi selain penutupan dapur yang tidak memenuhi standar.
Pria kelahiran Grobogan Jawa Tengah ini mengatakan bahwa pemeriksaan makanan secara organoleptik, seperti mencium bau dan mencicipi makanan, tidak selalu dapat mendeteksi potensi persoalan yang menyebabkan keracunan.
“Jadi, bahwa keracunan ini bukan hanya misalnya dicek organoleptik tadi dibau, dirasa, dicicipi, ya. Sudah dibau enggak ada masalah, dicicipi juga enggak ada persoalan, akhirnya dikonsumsi,” ujarnya.
Dengan begitu BGN akan mempertimbangkan penggunaan test kit di setiap dapur SPPG. Alat tersebut nantinya akan digunakan dengan bahan kimia tertentu untuk memeriksa kemungkinan adanya zat berbahaya maupun kondisi makanan.
“Jadi ini sedang kami pertimbangkan untuk kemudian di setiap dapur itu nanti kita lakukan test kit. Jadi dites, diberi dikasih chemical untuk ngecek apakah ada arsen, ada basi, ada apa,” ucapnya.
Sudaryono dan BGN kini sedang mempelajari penggunaan test kit dari sejumlah SPPG yang selama ini menerapkannya. Salah satunya adalah SPPG yang dikelola Bhayangkari dari Polri.
Sebelumnya BGN mencopot kepala SPPG yang terkait dengan insiden dugaan keracunan makanan pada siswa SMAN 1 Brastagi. BGN pun menyegel dapur operasional SPPG tersebut sebagai langkah administratif.
“BGN juga memastikan kondisi mereka (siswa) dan kemudian mencari akar persoalannya,” kata Sudaryono dalam unggahan Instagram resminya.
Selanjutnya BGN berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Karo. Adapun langkah pemeriksaan terhadap sampel sisa lauk-pauk dilakukan bersama Dinas Kesehatan setempat untuk mengetahui penyebab kejadian.
Seperti diketahui, sejumlah murid SMAN 1 Brastagi diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG.
Zulkarnain Barus Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumatra Utara Wilayah IV membenarkan adanya kejadian tersebut, namun ia belum memberikan keterangan lebih lanjut karena proses evakuasi masih berlangsung.
Sambung Sudaryono, ia mengatakan, evaluasi pun dilakukan pada SPPG yang dinilai belum menjalankan standar dengan baik.
Namun, ia mengingatkan satu kasus tidak dapat dijadikan gambaran umum bahwa seluruh dapur SPPG mengalami persoalan serupa.
“Dari 27 ribu dapur, Alhamdulillah sebagian besar itu bekerja dengan baik dan kita harus upayakan yang baik itu terus tambah baik gitu, dan kita mengevaluasi bagi yang belum baik. Yang tidak bisa dievaluasi, tidak bisa diperbaiki, mohon maaf harus saya tutup,” ia menegaskan.
Ia kemudian menyatakan akan mencopot atau memberhentikan personel yang tidak mampu mengikuti standar yang ditetapkan BGN.
“Dan bagi personel-personel yang tidak bisa mengikuti standar tinggi yang saya punya, mohon maaf harus saya copot atau saya pecat status ASN PPPK-nya,” ujar Sudaryono. (ton)



















