Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

BMKG Prediksi Hujan akan Turun di Jatim pada Desember, 3 Kota Ini yang Mengawali

×

BMKG Prediksi Hujan akan Turun di Jatim pada Desember, 3 Kota Ini yang Mengawali

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tanah kering merekah di musim panas (istimewa)
toplegal

TOPMEDIA, SURABAYA – Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur memprediksi musim hujan di Jatim akan tiba lebih lambat dari biasanya.

Wilayah Jawa Timur diprediksi baru memasuki musim hujan pada Desember 2026 akibat El Nino, Indian Ocean Dipole (IOD) positif, dan terlambatnya masuk angin Monsun Asia.

HALAL BERKAH

Lantas apa perbedaan El Nino dan Kekeringan?

El Nino, musim kemarau, dan kekeringan adalah merupakan tiga kondisi berbeda namun saling berkaitan. El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik.

Sementara itu, musim kemarau sendiri merupakan siklus iklim yang normal. Sedangkan, kekeringan terjadi saat curah hujan berada di bawah kondisi normal dalam periode tertentu saja.

Baca Juga:  Epidemiolog Beberkan Kelompok Paling Rentan Terpapar “Super Flu”

Di saat fenomena El Nino terjadi secara bersamaan dengan musim kemarau, maka proses pembentukan awan hujan akan terhambat. Kondisi itulah yang meningkatkan risiko kekeringan.

Periode Kering dan Prediksi Musim Hujan di Jatim

BMKG memperkirakan bahwa 56 dari 74 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 75,5% wilayah di Jawa Timur mengalami curah hujan di bawah kondisi normal dikarenakan kombinasi fenomena El Nino dan IOD.

Di Jawa Timur awal musim hujan di diprediksi akan mengalami kemunduran. Pada November 2026, baru 5 ZOM atau sekitar 8,5% luas daratan Jawa Timur yang diperkirakan baru memasuki musim hujan.

Sebagian wilayah di Jatim pada bulan Desember 2026 diprediksi memasuki musim hujan. Sebanyak 68 ZOM atau 90,6% diperkirakan akan memasuki musim hujan di periode tersebut, seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Malang.

Baca Juga:  Surabaya Raih Terbaik Pertama Keterbukaan Informasi Publik se-Jawa Timur

Kekeringan yang terjadi di periode yang lebih panjang dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari ketersediaan air tanah dan waduk, pasokan air bersih rumah tangga, hingga sektor pertanian. Situasi ini akan meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. (ton)

TEMANISHA.COM